19 Tahun Sudah Kita Berdiri, Memperbesar Kemungkinan : Edisi HARLAH SMI Ke-19

Lambang Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI)

Kalau di Ibaratkan Usia manusia fase ini sedang berada di peralihan remaja ke dewasa, begitupun cita-cita dan perjuangan organisasi yang lebih maju dan mendorong dari perjuangan normatif ke perjuangan Politik. SMI mempunyai sejarah yang cukup panjang dalam proses pembangunannya. 

Diawali sejak akhir tahun 2001 terbentuk Komite Pendidikan Bersama Indonesia (KPBI) yang terdiri dari Organisasi-Organisasi GM tingkat lokal / Kota yaitu Keluarga Mahasiswa Yogyakarta (KMY), Komite Mahasiswa Mataram (KOMIT) yang setelah melakukan ekspansi di beberapa kampus berubah menjadi Komite Mahasiswa Mataram untuk Demokrasi (KOMID), Dewan Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (DEMARKASI – Malang) & Komite Mahasiswa Malang untuk Demokrasi (KOMANDO) yang dalam prosesnya kedua organisasi di Malang tersebut melakukan Unifikasi dan berubah menjadi Serikat Mahasiswa Malang (SMM).

 Di Semarang ada Serikat Mahasiswa Kaligawe (SEMAK) yang kemudian berubah menjadi Keluarga Aktivis Mahasiswa Demokratik (KAMD) setelah melakukan perluasan di beberapa kampus di Semarang, Di Pekalongan ada Keluarga Mahasiswa Sekolah Sadar Sosial (KM-S3). Di Jakarta ada Gerakan Mahasiswa Jakarta (GMJ) dan KM-Gunadarma serta KM-ISTN yang juga melakukan unifikasi menjadi Gerakan Mahasiswa Jabodetabek (GM-Jabodetabek). Di Surabaya ada Serikat Mahasiswa untuk Rakyat (SAMSARA).

Di Bengkulu ada Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMUD), di Palembang ada Gerakan Solidaritas Mahasiswa Palembang (Gersos-MP), di Jombang ada Komite Aksi Mahasiswa Jombang (KAMAJO) dan Jaringan Solidaritas Mahasiswa Jombang (JSMJ) yang kemudian unifikasi menjadi Serikat Mahasiswa Jombang (SMJ), di Pasuruan ada Forum Diskusi Mahasiswa Merdeka (FORDISMA). 

Semangat persatuan yang ada di masing-masing organisasi tersebut menjadi benang merah yang terus diproses secara bersama-bersama menuju tahapan-tahapan yang kualitatif. KPBI pada waktu itu hanya sebatas melakukan pendidikan-pendidikan bersama secara nasional dan melakukan pertemuan-pertemuan yang terdiri dari pertemuan 3 bulan sekali dan pertemuan nasional tiap 6 bulan sekaligus pelatihan nasional.

Dalam proses Dialektikanya ketika perspektifnya semakin maju maka kemudian pada saat pertemuan KPBI di Semarang tahun 2004 menghasilkan keputusan untuk mempersiapkan kerangka bangunan Ormas Mahasiswa Tingkat Nasional dan secara nama berubah menjadi Komite Persiapan Serikat Mahasiswa Indonesia (KP– SMI), Setelah itu kemudian mulai berbicara tentang kebutuhan- kebutuhan pembangunan Ormas Mahasiswa tingkat Nasional. 

Kemudian setelah semuanya matang maka pada tanggal 15 s/d 18 Agustus 2006 SMI melangsungkan Konferensi Nasional (KONFERNAS) yang pertama di Semarang, Sejak tanggal 17 Agustus 2006 (Hari Kelahiran SMI) maka secara Defacto maupun Dejure telah berdiri satu Ormas Mahasiswa Tingkat Nasional yaitu Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) yang siap berdinamika di kancah Gerakan Demokratik tingkat Nasional dan siap mengemban tugas-tugas perjuangan massa Mahasiswa di Indonesia.

Tentu serikat mahasiswa tidak lahir begitu saja, perjalanan panjang sejak tahun 2001 di mana situasi gerakan reformasi mengalami penurunan kualitas dan kuantitas dalam memperbesar gerakan rakyat adalah situasi yang memaksa mahasiswa untuk menemukan gerak dan ide baru dalam memperjuangkan hak dan politik kerakyatan.

Penyimpangan terhadap esensi perjuangan reformasi untuk merubah total struktur kekuasaan ternyata tak berdampak begitu mencolok terhadap perubahan secara nasional. Gerakan mahasiswa juga mengalami kemunduran akibat ilusi elit-elit reformasi yang menjanjikan perubahan yang tak kunjung datang. Sedangkan secara sosial rakyat membutuhkan perubahan secara sosial ekonomi dari era orde baru ke era reformasi namun juga gerakan mahasiswa malah menjauh dari rakyat dan perlahan meninggalkan rakyat sebagai ibu kehidupan gerakan itu sendiri. 

Maka situasi inilah yang kembali mendorong kebutuhan adanya organisasi yang siap menyiapkan pundak untuk perjuangan rakyat ke depan dan mempelopori kemajuan kualitas dan kuantitas perjuangan gerakan mahasiswa bersama gerakan rakyat.

Sebagai organisasi massa mahasiswa dalam membangun kepeloporan gerakan rakyat, Serikat Mahasiswa Indonesia sampai sekarang memasuki umur perjuangan 19 tahun, atau dalam perjalanan sudah menyelenggarakan KONGRES NASIONAL yang ke VIII, pada tahun 2024. Dalam umur tersebut, tentu bukanlah Sesuatu yang mudah bagi organisasi gerakan mahasiswa untuk bertahan dan berumur panjang di tengah hantaman sistem kapitalisme. Komitmen organisasi terhadap prinsip anti kapitalisme, tidak berkolaborasi dengan elit dan partai politik borjuasi adalah upaya yang terus dilakukan. Oleh karena itu lewat disiplin yang kuat, pengorbanan serta keberanian anggota dalam membangun kepemimpinan massa adalah modal utama untuk mencapai tujuan dan cita-cita rakyat Indonesia.

Hari lahir sebuah organisasi bukan sekadar penanda usia, tetapi momentum untuk meneguhkan kembali arah perjuangan. Dalam Harla Ke XIX ini SMI mengangkat tema “Revitalisasi Semangat Berorganisasi Kaum Muda untuk Membangun Partainya Sendiri.” Tema ini memiliki pemaknaan, upaya membangkitkan kembali, memperkuat, dan memodernisasi kesadaran politik serta kemampuan berorganisasi generasi muda. Revitalisasi ini dilakukan karena adanya kesadaran kolektif bahwa negara, dalam praktiknya, belum mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Kegagalan tersebut diperparah oleh dominasi partai-partai politik yang dikuasai oleh elit borjuasi, yang cenderung berpihak kepada kepentingan kapitalis dan asing, sehingga abai terhadap kebutuhan rakyat banyak.

Dengan membangun partai politiknya sendiri, kaum muda berupaya melepaskan diri dari ketergantungan pada struktur kekuasaan lama yang korup dan elitis. Langkah ini menjadi wadah untuk memperjuangkan aspirasi rakyat secara mandiri, mengedepankan politik yang berorientasi pada kepentingan publik, serta menumbuhkan kemandirian politik yang bebas dari intervensi modal besar. Revitalisasi ini tidak hanya bersifat organisatoris, tetapi juga ideologis—yakni membangun kesadaran kritis, militansi, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan demi terciptanya tatanan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

Selamat Hari Lahir Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Yang Ke XIX

“SELAMA PENINDASAN MASIH BERCOKOL DI MUKA BUMI INI, SELAMA ITU
PULA AKU IKHTIARKAN JIWA DAN RAGA INI UNTUK SEGENAP RAKYAT
TERTINDAS”

 

Komentar