Panduan Berlibur


Oleh : Hidayatullah

Cerita ini diawali dengan penetapan jadwal libur negeri Kotok, nama lain dari Indonesia, dalam Program Hari Libur Nasional: Sebuah Kisah Hidup di Bawah Kolong Langit Menjelang Hari Libur.

Selamat Natal bagi yang merayakan dan selamat menanti tahun baru. Karena untuk itu semua, berliburlah menjadi manusia.
Hari libur telah datang. Setelah menjalani tetek-bengek setel program kehidupan di bawah kolong langit Indonesia, akhirnya, tepat di kemelut bulan ini, manusia bisa berlibur. Libur, bagi penghuni bumi abad ke-25, bukan berarti tanpa setel program kehidupan sama sekali.

Dalam hal ini, setel program libur bagi penghuni bumi tidak betul-betul bermakna libur. Sebetulnya, libur dimengerti sebagai alih fungsi program, sekaligus membawa sebagian anggaran dan tidak lupa pula menyiapkan RAB (Rencana Anggaran Belanja), yang kelak pascalibur akan dilaporkan di kemudian hari.

Keterampilan setel program dan otak-atik hingga dribbling yang maha luar biasa ini didapatkan dari pengondisian kehidupan di kolong langit melalui pergelutan panjang dengan kebiasaan meracik APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Penjelmaan dari semua itu termuat dalam program Makan Bergizi Gratis. Anggaran yang digembar-gemborkan para tetua negeri sebagai anggaran tertinggi dalam sejarah pembiayaan pendidikan.

Namun, ternyata anggaran itu bukan untuk pendidikan, melainkan untuk makan-makan. Sampai libur pun manusia dipaksa untuk makan. Hasil dari semua itu memunculkan paradoks, sampai-sampai tidak bisa dibedakan antara pendidikan makan-makan dan memakan anggaran pendidikan.

Cukup untuk menerangkan proposisi paradoks negeri, karena hal itu senantiasa dirasakan oleh mereka yang hidup di bawah kolong langit Indonesia.

Lebih lanjut, persoalan libur justru terletak pada tidak berlibur sama sekali. Alih-alih bergantinya hari untuk mengikuti dan merasakan suasana berlibur, manusia malah terjebak dalam suasana kebatinan yang tak karuan. Dengan sebutan lain, ini adalah sebuah paradoks.

Seperti semua paradoks yang pernah dilahirkan di bawah kolong langit, paradoks tetaplah paradoks. Jangan anggap sepele paradoks. Umat manusia membutuhkan ribuan tahun hanya untuk memecahkan satu paradoks saja.
Maka, demi mencapai kepercayaan atas informasi ini, mari kita mengheningkan cipta. Memberikan karpet merah bagi para leluhur manusia. Sebab, pemikiran ini datang dari zaman bahula, sekitar abad ke-6 SM muncul kisah seorang bernama Epimenides, yang pernah salah ucap atau dapat dimengerti sebagai kutukan melalui sumpah serapah.

Bak Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu akibat kalimat sakti, atau para aktivis yang berkhutbah tentang dunia dengan satu kalimat: “Hanya ada satu kata: lawan.” Setelah itu, jadilah batu, jadilah patung, jadilah dolar monetisasi, jadilah konten, jadilah sosialisme, jadilah ampas tahu, jadilah jamur tai sapi.

Epimenides—seorang dari kabupaten pinggiran pernah berkata, “Orang kabupaten pinggiran selalu berbohong.”

Ia tidak tahu-menahu bahwa satu kalimat ini berimplikasi pada pembentukan sebuah paradoks maha dahsyat yang mengguncang dunia pada masa nenek moyang manusia.

Mari kita saksikan implikasinya dalam semesta logis. Isi dunia ini hanya terdiri atas dua proposisi: salah dan benar.

Di satu sisi, jika pernyataan Epimenides bahwa “orang kabupaten pinggiran selalu berbohong” adalah benar, maka Epimenides sedang berbohong, dan karenanya pernyataannya salah. 

Singkatnya, jika pernyataan itu benar, maka pernyataan itu salah.

Di sisi lain, jika pernyataan Epimenides itu salah, maka Epimenides sedang berkata jujur, dan karenanya pernyataannya benar. Singkatnya, jika pernyataan itu salah, maka pernyataan itu benar.

Bagaimana memecahkan paradoks ini?
Dalam paradoks ini, semuanya kabur, buram, dan senantiasa kontradiktif, karena sama-sama dapat dibenarkan. Jika Epimenides dipercaya, maka ia tidak pantas dipercaya. Jika ia diragukan, maka keraguan itu sendiri menjadi bentuk kepercayaan.

Paradoks ini begitu sulit, sampai-sampai pernah membuat seorang perenung asal negeri gurun bernama Philetas yang hidup sekitar abad ke-3 SM mengakhiri hidupnya. Ia mencatatkan sepotong kalimat sebagai representasi suasana kebatinannya saat bergelut dengan paradoks: Wahai orang asing, akulah Philetas. Paradoks ini dan malam-malam Jahanam telah membunuhku.”

Dari kisah paradoks di atas, dapat ditarik inspirasi sekaligus anomali hidup di bawah kolong langit Indonesia yang maha absurd, maha banal, maha binal, dan maha membingungkan. Tepat karena Yamaha gagal juara MotoGP pada tahun 2057.

Maka, bila manusia ingin berlibur, berliburlah pada hari libur. Singkatnya, manusia harus meliburkan diri menjadi manusia. Hanya dengan berlibur sebagai manusialah seseorang bisa menikmati hari libur.

Sejarah mengenal pemikiran tentang manusia yang membentang dan tersusun dari pembacaan ayat pleoklamasi kemerdekaan oleh Soekratoz tentang, “Aku tahu bahwa aku tidak tahu.” Ketidaktahuan yang demikian total membuatnya tidak tahu harus menulis apa-apa.

Namun beruntunglah muridnya, Botol, yang menuliskan ayat-ayat itu. Ia menulis kiat sukses menjadi filsuf raja (ranah politik), kiat sukses menjadi manusia (etika), dan kiat sukses menimba ilmu (alegori gua—epistemologi).

Kemudian muncul murid nakal dari akademia, yaitu Aristohujat. Seorang yang, karena kenakalannya, justru melahirkan kenakalan baru. Berkat membaca pemikiran nakal, ia menuliskan catatan-catatan berikut: realisme kuno melawan idea, realisme politik melawan filsuf raja, logika, etika yang bukan moral, revolusi, apa itu teori, apa itu praktik, hingga pembagian ilmu-ilmu gaib yang membuatnya dikenal sebagai murid yang gemar bolos.

Namun, kebosanannya terhadap sekolah membuatnya memilih untuk hanya melihat senja dan mencari kayu bakar di hutan. Dari situ lahir sesuatu yang maha berguna bagi penghuni bumi masa depan: ia menjadi leluhur biologi, leluhur fisika, dan leluhur kimia. Singkatnya, leluhur pelajaran tingkat Sekolah Dasar yang disebut IPA.

Setelah itu semua, catatan kaki untuk manusia pun dituliskan. Berikut nama-nama para pewaris yang memodifikasi, mengotak-atik, dan melakukan dribbling atas hasil kenakalan itu, masing-masing di bengkel Yamaha dan Honda mereka sendiri.

Generasi pertengahan mampang Jakartau pucat:
Agus Tinos, Ansul Emos, Tomas AkwakwakBona, Ventura, Don Skuter, Will Okehaman.

Generasi panjang jenggot:
Niko Kusangka, Fransis Bakso, Gali-Gali Lei, Jor-Joran Bruno.

Generasi jenggot jilid II:
Rene Des Kartu, Bles Paskal, Tom Habis, Bang Spionase, Jon Gembok, Got Frid Wil Bikin Ribet.

Generasi dari mata turun ke kepercayaan:
Jor Berkelahi dan Dapet Huum.

Generasi pencerahan kamera buram:
Jan-Jak Resah, Volt Air.

Meme Jerman Puncak Bogor:
Imanuel Kanta, Johan Fiksi, Fridrik Selang, dan Hegel Betul.

Sampai tahap selanjutnya, yaitu generasi anak gaul modern:
Kar Maxmargues, Bang Mardoks, Fred Ngeselin Kirke Gerah, dan Nici Nyentrik.

Generasi cetakan ke-20:
Edmon Husen, Martabak Hidung, Ludwik Main Game, dan Antoni Gram-Grem.

Lebih lanjut, generasi manjat kritis karena begadang dan sosial manjat-manjat:
Tio Adornoan, Max Horkam, Herbi Markuse, dan Jirgen Haber-Beres.

Generasi struktur molekul wajah pasca-memakai skincare:
Klod Levis Stelan, Misil Fuko, Jak Deredam, Jil Delekat, dan Felix Guwatar.

Generasi fenomeno sedih dan krisis mental:
Jean Pol Sari, Moris Merah Pontianak, dan Emmanul Levi Asin.

Terakhir, generasi kontemporer terdepan, terluar, dan tertinggal:
Slavoj Zizekek, Alain Badung, Byung-Chul Lelah, Bruno Lator-Letor, dan Jil Lipovits.

Semua itu berakhir pada JOXS Roky Karung. Dengan modal meta-interpretasi, Roky berhasil mengolok-olok pidato Mulyono, pemimpin negeri Kotok yang hanya menghafal nama-nama ikan.

Terhambur-hambur.

Tepat di sini, di kemelut gawang yang tak bisa dijebol oleh Darwin Nunes, muncul sebuah pertanyaan dengan banyak tanda tanya. Untuk apa semua ini? untuk apa semua ini? untuk apa semua ini?

Apakah ada orang yang tidak berbuat apa-apa? 
Apakah tidak ngapa-ngapain adalah sebuah ngapa-ngapain juga? 
Apakah tidak berbakat adalah bakat?

Terhadap semua pertanyaan ini, jawaban akan diberikan sebisanya, tanpa mengajak siapa pun untuk percaya sepenuhnya pada seluruh jawaban.

Bayangkanlah dunia tempel-tempel. Cara kerja sosial dalam dunia ini seperti pekerjaan menempel stiker pada motor, yang dikenal sebagai decal motor, cutting sticker, atau wrapping motor. Manusia tidak lagi palu-palu seperti pengertian zaman Soekratoz. Sebab itu adalah cara kuno sekaligus norak bagi anak zaman di dunia ini.

Palu-palu telah menjadi pekerjaan yang maha mubazir sekaligus menghambur-hamburkan paket internet. Untuk apa capek-capek bertengkar dan memeras keringat ketika semua jawaban sudah tersedia dan tinggal ditempelkan saja?

Dengan demikian, pengertian cendekiawan bahkan ilmuwan menjadi berlainan dalam dunia tempel. Seridu dari dunia inilah yang membuat anak-cucu keturunan Soekratoz punah dari LAN. Spesies ini telah mati sejak filsafat dinyatakan mati dan fakultas dibubarkan karena bangkrut dan sepi peminat sama sekali.

Bakat semacam itu tidak berguna lagi karena tidak dapat menghasilkan honorarium, gaji sesuai upah minimum, apalagi gaji dua sampai tiga digit. Alamak! Betapa malangnya para filsuf masa depan di dunia tempel-tempel ini. Implikasinya jelas: tidak ada perempuan yang siap membuahi sel telur bagi manusia seperti itu.

Orang-orang semacam ini, bagi kaum hawa, hanya menjadi mak comblang semata. Sebab, mereka tidak menghasilkan apa-apa. Mereka tidak bisa menempelkan slip gaji, tidak bisa menempelkan uang jajan. Singkatnya, tidak bisa menempelkan nafkah bagi anak dan istri.

Inilah yang membuat Mulyoni dapat memimpin negeri Kotok, sekaligus mewariskan kekuasaan kepada anaknya, Fufuyayat. Keterampilan tempel-tempel Mulyoni berada di atas rata-rata atau bisa dikatakan sebagai manusia maha jenius.

Semua itu diperolehnya dari pengalaman mengolah pabrik lem. Ia tahu betul bagaimana membuat lem menempel pada stiker, bagaimana tingkat kemiringan tujuh sampai empat derajat bekerja, dan bagaimana zat cyanoacrylate bekerja pada permukaan. Ilmu atau tokoh apa pun cukup dihafal; sisanya adalah laku menempel, tepat pada sepersekian detik dan menit, hingga ia dengan lihai memenangkan tempelan ilmu dan nama-nama ikan.

Relasi sosial-politik bekerja dengan meta-tempel adalah sebuah keterampilan yang bukan sekadar menempel, tetapi juga mampu mengolah dan memprediksi detak jantung lem, apa pun jenisnya. Orang-orang seperti inilah yang diperebutkan oleh massa rakyat, dipercaya rakyat, dan dianggap mustahil melakukan korupsi.

Tidak mungkin ia mencuri lem, bukan?
Dan orang-orang seperti inilah yang diperebutkan partai politik.

Sungguh canggih dunia masa depan, sampai-sampai relasi sosial bekerja serumit itu.

Lalu muncul pertanyaan lain:
apakah tidak berbuat apa-apa adalah cara lain dari tidak berbuat apa-apa?

KISAHKU BERSAMA PACAR

Ia pernah bertanya kepadaku di masa depan sekaligus masa lalu pada tahun 2055, jauh sebelum Indonesia ada.

“Kamu sedang apa, sayang?”

“Aku lagi tidak berbuat apa-apa, sayang.”

Jawaban itu membuat pacar dunia-akhiratku tak lagi membalas pesanku baik di DM Instagram, terlebih di WhatsApp. Aku pun tidak merespons apa-apa, sebab memang sedang tidak berbuat apa-apa. 

Apalagi merayu adalah pekerjaan yang maha sulit dan sia-sia. Sebuah usaha yang menguras tenaga, padahal aku tetap tidak berbuat apa-apa.

Kalaupun dipikirkan, apa salahku tidak berbuat apa-apa?

Pacarku mungkin hanya tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Mungkin ia telah ikut Mulyoni dan Fufuyayat yang hanya menempel nama-nama ikan.

Anjrit!
Ia tidak mencintaiku.

“Dasar bego lu!”

Kalimat-kalimat maha sakti mandraguna abad ke-25 pun berputar di kepalaku. Barangkali ia terlalu banyak menonton aplikasi Totok. Itulah sebabnya ia menjadi spabot motor, lengkap dengan stiker bertuliskan: ENAK ZAMAN KU TOH.

Oh, sayangku, andaikan aku tahu kapan ajalku tiba. Akan kusodorkan sebuah esai paradoks kepada malaikat maut. Di sana, kami akan berdiplomasi. Sebuah agenda tukar-menukar jawaban paradoks pembohong dengan sehelai umurku.

Aku tahu malaikat tidak benar-benar mencabut nyawa perenung negeri gurun. Ia menjumpai ajalnya karena kehabisan energi untuk mencari jawaban paradoks pembohong. Implikasinya, malaikat pun penasaran. Ia hampir menganggur dan terancam di-PHK akibat kejadian itu.

Di ubuk hati yang paling dalam, malaikat pun bertanya, "apa sebenarnya jawaban dari paradoks pembohong?" 

Lewat semua itu, oh sayangku, aku berharap mendapat kesempatan melanjutkan hidup di kolong langit. Dengan senang hati dan susah payah, aku ingin meyakinkanmu bahwa aku mencintaimu lebih dari creator Facebook ataupun manager indie music yang kau kagumi.

Pada perjumpaan selanjutnya, aku kembali menjelaskan bahwa, “tidak berbuat apa-apa” dapat disebut dengan konsonan semantik lain, melebur secara tematik dalam molekul sintaksis: tidak ngapa-ngapain adalah sebuah ngapa-ngapain.

Jika disadur dalam lima tarikan napas, percakapannya kira-kira begini.

Aku menggenggam tangannya erat-erat, menatap matanya dan pipinya yang bulat-imut. Ia tampak seperti keturunan Tionghoa, tetapi berdarah Jawa setidaknya menurut Badan Pusat Statistik.

“Kamu sedang ngapain?” tanyanya.

“Aku tidak ngapa-ngapain.”

“Hah? Aku tanya kamu sedang ngapain. Kok jawabnya begitu?”

“Begini,” kataku. “Tidak ngapa-ngapain itu juga ngapa-ngapain. Sebab tidak ngapa-ngapain berbeda dari semua aktivitas manusia lainnya. Lagi makan itu ngapa-ngapain. Lagi minum itu ngapa-ngapain. Nah, tidak ngapa-ngapain juga sebuah kerja—kerja tidak melakukan apa-apa.”

“Terus, kamu sedang apa?”

“Ya, tidak ngapa-ngapain.”

“Aku bingung,” katanya.

“Tidak usah bingung,” kataku. “Tidak ngapa-ngapain adalah bakat. Bakat yang sangat berguna bagi kehidupan masa depan, terutama menjelang hari libur nasional.”

Seluruh percakapan ini gagal meyakinkannya. Dalam waktu singkat, hubungan itu ditinggalkan begitu saja tanpa tukar balik komunikasi selama dua puluh empat jam, bahkan hingga tiga bulan. Dalam tempo sesingkat-singkatnya, hubungan itu resmi dapat disebut: putus.

Namun, di lubuk saraf otaknya yang paling dalam, ia masih mengingatku. Buah dari kebiasaannya menghafal nama-nama ikan dan menempelkan kata-kata agung sebagai lambang cintaku kepadanya:
tidak ngapa-ngapain adalah ngapa-ngapain.
Baik.

BOKER adalah Kausalitas

Turunan dari persoalan ini memunculkan pertanyaan dalam hatiku dan mengguncang kebatinan. Persis saat membuka mata setelah bangun dari kloset duduk ketika boker: apakah tidak berbakat pacaran atau menjalin hubungan adalah sebuah bakat? Ya, sebuah bakat untuk tidak berbakat sama sekali.

Sebelum dihujat para pemuja pacaran, persoalan ini perlu dieksplisitkan. Mula-mula harus dipahami kronologi aktivitas boker. Inilah konteks sekaligus jantung inspirasi dari cinta yang tentu saja melampaui seluruh bait atau prosa aliran indie, termasuk para pemuja senja.

Bakat yang Dibutuhkan Pemerintah di Masa Depan

Bakat ini akan sangat berguna di masa depan. Saking bergunanya, tidak banyak orang bahkan mungkin hanya sepuluh dari jutaan manusia yang hidup di bawah kolong langit Indonesia yang mampu memiliki bakat semacam ini.

Pada tahun 2055, Indonesia akan dilanda krisis iklim yang diakibatkan oleh deforestasi informasi dan kapitalisasi informasi atau, dalam bahasa lain, kiat sukses yang disajikan oleh kreator FABOOOK Pro hingga kreator kelas menengah di medium aplikasi INSTAGARAM.

Inilah yang mengemuka dalam sejarah baru perjuangan kelas yang merupakan sebuah kontradiksi menuju kiamat kapitalisme yang diperjuangkan oleh setiap kaum.

Klasifikasi Konten

1. Manjat-manja
Tutorial manjat pohon sosial, tutorial manjat pohon durian, tutorial manjat tiang bendera pada hari Senin, tutorial manjat bulu betis, dan terakhir tutorial manjat menara Telkom untuk bunuh diri saat mimpi di siang bolong.

2. Istirahat / tidur
Cara bobo cantik, cara bobo manja, cara tidur ngambek, cara tidur sambil main bulu tangkis, cara tidur saat nobar bola, cara tidur saat teriak gol, cara tidur anti-air liur tumpah, cara tidur ngorok, cara tidur sambil gigit jari, cara bangun tidur pukul 11 siang, cara membersihkan air liur di tempat tidur, dan terakhir cara untuk tidak tidur sama sekali hingga begadang sampai begadang lagi.

3. Paham
Sepuluh menit menguasai Marxisme, sepuluh menit menguasai kapitalisme, sepuluh menit mendapatkan daging dari seluruh konten filsafat, cara membaca agar paham suatu paham, sepuluh menit menguasai isi hati perempuan, sembilan menit menguasai palu-palu di forum diskusi, delapan menit menguasai maskulinitas, tujuh menit menguasai feminisme, enam menit menguasai penghapusan filsafat, lima menit memahami cara membubarkan Fakultas Filsafat, empat menit paham seperti paham Feri Inwando, dan terakhir tiga koma lima detik paham buku 28 Hari Mendapatkan Pacar.

Dalam tsunami informasi ini, semua orang dapat memiliki bakat untuk menjadi apa saja. Asal memiliki telepon genggam dan paket internet, maka bakat apa pun dapat dimiliki. Namun, apakah semuanya? Tentu tidak.

Tidak seorang pun di masa depan memiliki bakat yang satu ini: bakat untuk tidak berbakat. Inilah residu terakhir dari sisa-sisa bakat alam tidak berbakat sebagai bakat itu sendiri. Sebuah bakat yang mengantarkan manusia pada ketenangan dan kedamaian dalam liburan Natal dan Tahun Baru.

Sebuah bakat yang tidak bisa diperoleh jika tidak berlibur menjadi manusia.

Ayam Potong dan Tsunami Informasi

Mengapa demikian? Karena di masa depan, informasi berceceran di mana-mana seperti tumpahan jagung di tengah jalan akibat truk yang terguling dari ketinggian seratus Mbps Gunung Tambora. Alih-alih diperoleh secara gratis, informasi ini justru membuat manusia tidak berpengetahuan.

Dengan kata lain, informasi telah menjadi racun yang persis melampaui lima menit sebagai batas waktu sesuatu menjadi Nazi, menurut ajaran nabi.

Informasi telah berubah menjadi ayam potong. Untuk memahami situasi ini, kita harus memahami sejarah ayam potong. Ayam potong mula-mula adalah ras ayam yang sengaja diciptakan untuk dipotong-potong dan dijual di pasar demi monetisasi.

Gen ayam potong diambil sembarangan dari tong sampah, ayam jalu, ayam super, ayam bangkok, hingga ayam-ayam yang bahkan tak lagi dikenali sebagai ayam. Semua itu dikonsolidasikan demi satu tujuan, sebuah setelan komedi.

Inilah materi komedi yang membuat Raditia Dukun tidak bisa lagi tidur nyenyak.

Raditia Dukun

Raditia Dukun bukanlah OLI yang selalu terjebak di dalam botol. Ia ingin hidup normal, bertemu anak dan istri setelah bekerja sebagai juri stand-up comedy. Namun, apa daya, Raditia Dukun mati karena tertimpa tsunami informasi.

Hasil pemeriksaan dokter forensik menunjukkan bahwa aliran darahnya dipenuhi zat beracun bernama HOAKS, yang dikonsumsinya terus-menerus dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Raditia Dukun ingin kembali. Sebagai keinginan terakhirnya menjelang ajal, ia berkata, “Aku ingin membaca buku dan jurnal saja. Wahai istriku, jangan percaya sandiwara. Sandiwara tetap sandiwara dan jangan jadikan pengetahuan, apalagi metode berpikir.”

Kemudian ia melanjutkan, “Celakalah kita jika semua menjadi lucu, sebab lucu hanyalah lucu ketika ia lucu.”

Namun, sungguh malang nasib Raditia Dukun. Ia tidak tahu bahwa zat B+ telah menyatu dengan tubuhnya. Dalam catatan forensik kemudian, zat itu disebut sebagai HOAKS. Sebuah zat yang merenggut nyawanya dan memicu penyakit rindu akan keaslian informasi. 

Catatan Harian dan Penutup

Satu tahun setelah Raditia Dukun meninggal, istrinya mengumumkan di media sosial bahwa ditemukan catatan harian suaminya tentang kerinduannya pada informasi serius. Penerbit berebut mencetaknya. Dunia masa depan menunggu dengan cemas.

Inti sari buku itu hanya dua paragraf:

1. “Jujur saya kecewa dengan semua murid lucu saya. Meluculah, tetapi tahu batas. Tundukkan kepala saat berhadapan dengan ilmu sosial-humaniora dan sains.”


2. “Melucu tanpa pengetahuan hanya mengantarkan kita pada dunia tanpa dunia.”

Namun dunia telah terlanjur mabuk.

Selesailah kisah manusia yang ingin berlibur, tetapi tak pernah benar-benar libur. Karena libur adalah upaya batin untuk tidak ngapa-ngapain, dan tidak ngapa-ngapain adalah sebuah ngapa-ngapain juga.

Inilah kisah tentang bakat untuk tidak berbakat. Kisah dari kolong langit Indonesia sebuah bagian kabupaten pinggiran di masa depan.

*Catatan Penulis

Seluruh naskah ini menimba inspirasi dari kalimat yang penulis dengar dari video YouTuber Mantra Durdana, bahwa filsafat membangun dan sastra menghancurkan. Naskah ini adalah fiksi semata, tidak patut dipercaya sebagai ilmu pengetahuan.

Seperti semua fiksi yang pernah dilahirkan di muka bumi, fiksi tetaplah fiksi.

Komentar