Memahami Hubungan Kelas dan Hegemoni dari Sudut Pandang Gramsci

Oleh : Obe 

Antonio Gramsci, pemikir Marxis Italia yang lahir pada 22 Januari 1891 di Ales, Sardinia dan meninggal pada 27 April 1937 di Roma, meninggalkan jejak mendalam dalam teori politik dan sosial abad ke-20. Sebagai salah satu pendiri Partai Komunis Italia dan sebagai intelektual yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di penjara di bawah rezim Mussolini, Gramsci mengembangkan gagasan-gagasannya melalui karya utama, Catatan Penjara (Quaderni del Carcere). Kumpulan lebih dari 30 buku catatan yang ditulis antara 1929 dan 1935 ini tidak hanya merevisi pemahaman Marxisme klasik karya Karl Marx dan Friedrich Engels, tetapi juga memperkenalkan konsep inovatif seperti hegemoni budaya, yang menjadi kunci untuk memahami dinamika kekuasaan di masyarakat modern.

Dalam konteks hubungan kelas dan hegemoni, Gramsci menawarkan perspektif yang melampaui determinisme ekonomi semata. Ia berargumen bahwa kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui paksaan negara seperti polisi dan militer, tetapi juga melalui persetujuan sukarela dari kelas bawah lewat institusi budaya dan ideologis. Hegemoni, bagi Gramsci, adalah proses di mana kelas penguasa membentuk "common sense" atau akal sehat masyarakat, sehingga kelas pekerja tidak hanya ditindas secara material, tetapi juga secara intelektual dan moral. Hubungan kelas, yang pada dasarnya bersifat antagonis dalam kapitalisme, menjadi arena pertarungan hegemonik di mana kelas borjuis mempertahankan dominasinya sementara kelas proletar berjuang untuk membangun kontra-hegemoni. 

Gramsci lahir di keluarga kelas menengah Albania-Sardinia yang miskin, di wilayah Mezzogiorno yang tertinggal secara ekonomi. Pengalaman awalnya di Turin, pusat industri Italia, membentuk pandangannya tentang konflik kelas. Pada 1911 ia belajar di Universitas Turin, di sana ia terlibat dengan Federasi Pemuda Sosialis dan bergabung dengan Partai Sosialis Italia pada 1914. Pengaruh Revolusi Rusia 1917 dan gelombang pemogokan buruh di Turin mendorongnya mendirikan surat kabar L'Ordine Nuovo pada 1919, yang menjadi platform untuk gagasan tentang demokrasi buruh dan organisasi dewan buruh. Penangkapannya pada 1926 oleh rezim fasis Mussolini memaksa Gramsci menulis secara rahasia, dan dari penjara ia menghasilkan analisis kaya tentang bagaimana kelas borjuis memakai hegemoni untuk menekan kemungkinan revolusi proletar.

Konsep hegemoni Gramsci muncul sebagai kritik terhadap ortodoksi Marxis yang terlalu menekankan basis ekonomi. Marx melihat sejarah sebagai perjuangan kelas, di mana borjuis menguasai alat produksi dan negara untuk mengeksploitasi proletar. Gramsci setuju dengan garis besar itu, namun menambahkan dimensi bahwa dominasi diperkuat oleh apa yang ia sebut "hegemoni sipil", yaitu ketika ide-ide borjuis menjadi norma universal melalui sekolah, media, agama, dan keluarga. Hal ini menciptakan apa yang bisa disebut persetujuan yang bersyarat, di mana kelas bawah menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar. Jadi hubungan kelas bukan semata konflik material; ia juga merupakan konflik ideologis, di mana hegemoni menjaga stabilitas kapitalisme dengan mencegah kesadaran kelas berkembang secara penuh.

Dalam Catatan Penjara, Gramsci membedakan antara hegemoni organik, yang dibangun oleh intelektual organik kelas penguasa, dan hegemoni situasional, yang muncul sebagai respons terhadap krisis. Ia juga memperkenalkan konsep "blok historis", gabungan antara struktur ekonomi dan superstruktur budaya yang membentuk era sejarah tertentu. Contohnya, dalam kapitalisme Fordis, hegemoni borjuis tidak hanya beroperasi melalui pabrik, melainkan juga lewat budaya konsumsi Amerika yang kemudian diekspor ke Eropa. Pemahaman ini membantu menjelaskan mengapa revolusi di Barat sering gagal, berbeda dengan Rusia yang kondisi sosialnya memungkinkan perlawanan lebih langsung.

Konsep Hegemoni: Dari Dominasi ke Persetujuan

Istilah hegemoni, yang diadaptasi Gramsci dari pemikiran beberapa filsuf sebelumnya, menjadi pusat teorinya. Berbeda dengan konsep Lenin tentang hegemoni proletar sebagai aliansi internasional, Gramsci melihat hegemoni sebagai proses dinamis di mana satu kelas sosial memimpin kelas lain bukan hanya dengan kekerasan, tetapi lewat kepemimpinan moral dan intelektual. Dalam Notebook 4 (1930) ia menulis bahwa hegemoni adalah bentuk persetujuan etis-politik di mana kelas fundamental memimpin kelas-kelas lain, baik yang menjadi sekutu maupun yang ditaklukkan. Ini menegaskan bahwa hegemoni melibatkan etika, politik, dan budaya, bukan sekadar ekonomi.

Secara deskriptif, hegemoni beroperasi pada tiga lapis: ideologis, institusional, dan praktis. Pada tingkat ideologis, kelas penguasa membentuk pandangan dunia yang tampak universal, sehingga nilai-nilai borjuis, seperti individualisme dan kompetisi pasar bebas, dianggap sebagai akal sehat. Gramsci menyebutnya sebagai "filosofi spontan" massa, yang bercampur dengan folklore tradisional untuk menumpulkan pemikiran kritis. Misalnya, di Italia pasca-Perang Dunia I, borjuis industri memakai propaganda nasionalis untuk membenarkan penindasan buruh, sehingga konflik kelas berubah bentuk menjadi seruan persatuan nasional melawan ancaman luar.

Pada tingkat institusional, hegemoni dibangun melalui apa yang Gramsci sebut masyarakat sipil, yaitu jaringan swasta seperti gereja, sekolah, pers, dan klub sosial yang membentuk opini publik. Berbeda dari masyarakat politik, yang merujuk pada negara sebagai alat paksaan, masyarakat sipil adalah medan perjuangan yang panjang di mana ide-ide bersaing. Kelas borjuis, lewat intelektual tradisional seperti profesor dan jurnalis, memelihara hegemoni dengan mendefinisikan apa yang normal. Gramsci mengkritik netralitas palsu intelektual semacam ini karena sebenarnya mereka melayani status quo. Sebaliknya ia menyerukan pembentukan intelektual organik dari kelas proletar, misalnya pemimpin serikat buruh, yang mampu membangun kontra-hegemoni dengan mengaitkan perjuangan sehari-hari dengan visi sosialisme.

Pada tingkat praktis, hegemoni menimbulkan apa yang Gramsci sebut revolution pasif, yaitu reformasi kecil dari atas yang menahan perubahan radikal dari bawah. Di Italia fasis, Mussolini menjaga hegemoni borjuis dengan mengintegrasikan unsur petani dan kelas menengah ke dalam narasi nasionalis sambil menekan komunis. Hubungan kelas terlihat jelas: proletar perkotaan dan petani pedesaan terpecah sehingga aliansi kuat tidak terbentuk. Dari penjara, Gramsci membaca bagaimana krisis ekonomi 1929 melemahkan hegemoni, membuka celah bagi perlawanan, tetapi fasisme merespons dengan paksaan yang lebih kuat.

Gramsci juga membahas krisis organik, saat hegemoni retak karena kontradiksi internal kelas penguasa. Ketika kelas borjuis gagal memimpin secara moral, kelas bawah punya peluang membangun apa yang ia sebut perang posisi, yaitu perjuangan panjang merebut ruang budaya. Ini berbeda dengan perang manuver, yang terjadi di Timur dan dapat berlangsung cepat karena masyarakat sipil lemah. Dalam hubungan kelas, hegemoni menjelaskan mengapa proletar sering setuju dengan eksploitasi mereka, karena kondisi budaya membuatnya tampak sebagai takdir, bukan struktur penindasan.

Untuk memperjelas, bayangkan kasus Amerika dengan Fordisme. Produksi massal mengubah hubungan kerja lewat upah relatif tinggi yang mendorong konsumsi, sekaligus membentuk budaya keluarga nuklir, waktu luang standar, dan media massa. Semua itu menciptakan persetujuan terhadap kapitalisme. Kelas pekerja Amerika, meskipun dieksploitasi, menerima susunan ini sebagai kemajuan, yang menunjukkan bagaimana hegemoni bisa menyamarkan konflik kelas.

Hubungan Kelas dalam Teori Gramsci: Antara Antagonisme dan Aliansi

Hubungan kelas adalah jantung Marxisme, dan Gramsci memperkaya konsep Marx dengan dimensi hegemonik. Marx membagi masyarakat kapitalis pada dasarnya menjadi dua kelas utama: borjuis, pemilik sarana produksi, dan proletar, pekerja yang menjual tenaga kerjanya. Konflik antara keduanya tak terhindarkan dan akan mengarah pada revolusi, begitu analisis Marx. Gramsci sepakat dengan garis besar itu, tetapi menekankan bahwa kelas bukan entitas statis; mereka bertransformasi dan membentuk apa yang ia sebut blok historis melalui aliansi dengan kelas-kelas sekunder seperti petani, intelektual, dan petit borjuis.

Secara deskriptif, Gramsci melihat hubungan kelas sebagai dialektika antara koersi dan persetujuan. Kelas borjuis mempertahankan dominasinya lewat apa yang bisa disebut diktatorat kelas, di mana negara bertindak sebagai benteng penindasan konsep yang nanti juga akan muncul dalam pemikiran lain seperti Althusser. Namun hegemoni membuat dominasi ini efektif, karena kelas bawah berpartisipasi dalam sistem melalui voting, konsumsi, dan norma sosial. Di Italia Selatan, Gramsci mengamati bagaimana tuan tanah membentuk hegemoni lewat hubungan patron-klien, sehingga petani menerima kemiskinan dengan imbalan perlindungan ala feodal-modern.

Gramsci memperkenalkan konsep intelektual organik sebagai penghubung kelas. Setiap kelas punya intelektualnya sendiri: untuk borjuis ada ekonom liberal yang membenarkan pasar bebas, untuk proletar ada aktivis yang membangun kesadaran kelas lewat pendidikan. Tanpa intelektual organik, kelas pekerja terjebak dalam apa yang ia sebut ekonomi politik spontan, sehingga ide-ide borjuis diterima begitu saja. Hubungan kelas menjadi hegemonik ketika kelas penguasa memimpin kelas lain dan mencipta koalisi yang tampak alami. Contoh historis: di Inggris pasca-Perang Dunia I, borjuis industri bersekutu dengan aristokrasi untuk menjaga hegemoni melawan serikat buruh, lalu media menggambarkan pemogokan sebagai tindakan egois.

Dalam analisisnya terhadap Risorgimento Italia, Gramsci mengkritik kegagalan borjuis utara membangun hegemoni nasional. Aliansi mereka dengan monarki dan gereja menghasilkan revolution pasif, reformasi moderat yang mengecewakan petani selatan dan melemahkan posisi borjuis. Ini menunjukkan bahwa hubungan kelas juga mencakup konflik internal, misalnya antara borjuis industri dan borjuis agraria, yang masing-masing bersaing untuk hegemoni. Proletar, sebagai kelas fundamental potensial, harus membangun hegemoni nasional-populer dengan mengintegrasikan tuntutan petani dan intelektual progresif.

Gramsci membahas pula fenomena caesarism, di mana pemimpin karismatik muncul saat hegemoni retak, contohnya Mussolini atau peristiwa revolusioner lain. Fenomena ini mengubah hubungan kelas dari konflik horizontal antara kelas menjadi konfrontasi vertikal antara pemimpin dan massa. Gramsci memperingatkan agar proletar tidak terjebak pada bentuk kepemimpinan semacam itu demi mempertahankan cita-cita demokrasi soviet. Secara keseluruhan, hubungan kelas bagi Gramsci adalah arena di mana hegemoni menentukan apakah konflik berujung pada reformasi atau pada revolusi.

Untuk menggali lebih jauh, lihat konteks Sardinia tempat Gramsci berasal: sebagai semacam koloni internal Italia, pulau itu mengalami eksploitasi ganda. Borjuis utara menindas petani lokal lewat pajak dan monopoli, membentuk kondisi subalternitas di mana kelas bawah gagal membangun narasinya sendiri dan bergantung pada hegemoni borjuis. Pembebasan kelas, bagi Gramsci, menuntut apa yang dia sebut pessimism of the intellect dan optimism of the will—analisis yang dingin diikuti aksi yang penuh keberanian.

Hegemonik Kelas

Gramsci membedakan secara tajam antara masyarakat sipil dan masyarakat politik untuk menjelaskan bagaimana hegemoni mempertahankan hubungan kelas. Masyarakat sipil ia gambarkan sebagai barikade pertahanan ideologis, tempat kelas borjuis membangun persetujuan lewat institusi seperti sekolah yang mengajarkan sejarah nasional borjuis, gereja yang mempromosikan etika kerja, dan surat kabar yang menyajikan berita seolah netral. Di ranah ini, hubungan kelas disamarkan: pekerja belajar bahwa kesuksesan individu adalah kunci naik kelas, bukan perubahan struktural.

Masyarakat politik, sebaliknya, adalah benteng serangan, yaitu negara sebagai alat koersi ketika persetujuan ideologis mulai goyah. Gramsci menggambarkan negara Barat sebagai negara yang integral, gabungan antara aparatus negara dan masyarakat sipil yang saling melengkapi. Kelas borjuis memakai masyarakat sipil untuk mencegah krisis meluas ke ranah politik. Contoh historisnya adalah Red Biennium 1919–1920 di Italia, ketika pemogokan buruh mengancam hegemoni. Borjuis merespons dengan propaganda anti-Bolshevik di pers, langkah yang memecah potensi aliansi antara buruh dan petani.

Gramsci menyebut partai sebagai modern prince, organisasi yang mendidik massa. Partai Komunis Italia, menurutnya, harus membangun hegemoni dengan mengaitkan isu-isu kelas seperti upah dan hak buruh dengan isu-isu nasional seperti perlawanan terhadap imperialisme. Ini berbeda dengan sosialisme reformis yang justru terintegrasi ke dalam hegemoni borjuis melalui praktik parlementer.

Gramsci juga menganalisis Americanism and Fordism sebagai model hegemoni baru. Di AS, masyarakat sipil kuat lewat konsumsi massal dan rasionalisasi kerja, yang membuat proletar berubah menjadi konsumen rasional yang loyal pada sistem. Hubungan kelas menjadi paradoks: pekerja dieksploitasi tapi sekaligus "bebas" memilih produk, sehingga persetujuan tumbuh. Gramsci memprediksi adaptasi model ini akan memperkuat posisi borjuis di Eropa, baik melawan fasisme maupun sosialisme.

Bayangkan seorang buruh di Turin pada 1920-an: bekerja berjam-jam di pabrik, sementara sekolah anaknya mengajarkan patriotisme, gereja menawarkan penghiburan akhirat, dan radio memuji Mussolini sebagai penyelamat ekonomi. Inilah hegemoni yang bekerja, di mana kelas bawah "memilih" status quo karena tidak ada alternatif yang koheren. Gramsci menulis bahwa pembebasan kelas menuntut kritik organik, yaitu dekonstruksi akal sehat yang ada untuk membangun visi baru.

Strategi Perlawanan: Perang Posisi, Perang Manuver, dan Kontra-Hegemoni

Gramsci menawarkan strategi agar proletar bisa merebut hegemoni dari borjuis lewat dua konsep kunci: perang posisi dan perang manuver. Perang manuver adalah serangan langsung ke negara, efektif di Rusia yang masyarakat sipilnya lemah karena sisa-sisa struktur feodal. Di Barat, di mana masyarakat sipil lebih kuat, perang posisi diperlukan: perjuangan panjang merebut institusi-institusi budaya sebelum akhirnya menaklukkan kekuasaan politik.

Praktisnya, perang posisi melibatkan pembangunan kontra-hegemoni. Kelas pekerja harus membentuk aliansi historis, misalnya dengan petani dan intelektual, sehingga tercipta blok historis baru. Gramsci mencontohkan Ordine Nuovo, kelompok intelektual yang mendidik buruh Turin tentang self-management pabrik, sebagai upaya membangun kesadaran kelas organik. Dengan begitu, hubungan kelas bisa berubah dari subordinasi menjadi kepemimpinan moral, di mana proletar memimpin sekutu-sekutunya dengan visi emansipatoris.

Perang manuver dilakukan setelah posisi budaya kuat, melalui aksi langsung seperti pemogokan umum atau kudeta. Gramsci memperingatkan tentang transformism, yaitu co-optasi reformis yang melemahkan potensi revolusi sebagaimana sosialisme di Italia pernah bergabung dengan borjuis. Untuk membangun kontra-hegemoni, partai harus berfungsi sebagai pendidikan emosional dan intelektual massa, mendidik bukan hanya pikiran tapi juga perasaan.

Dalam krisis organik seperti Depresi Besar, hegemoni borjuis retak dan membuka peluang bagi adanya momen caesarist di mana kelas bawah bisa bergerak maju. Gramsci menekankan pentingnya sikap pesimistis secara intelektual namun optimis dalam kehendak. Hubungan kelas menjadi medan di mana kontra-hegemoni dibangun melalui kritik filsafat yang mempertanyakan akal sehat dominan dan mengungkap struktur eksploitasi.

Gramsci juga menyoroti subaltern groups, yaitu kelompok-kelompok kelas bawah terfragmentasi seperti petani Sardinia. Mereka kerap gagal membentuk hegemoni karena kurangnya organisasi, tetapi memiliki potensi menjadi sekutu penting bagi proletar perkotaan. Strategi semacam ini masih relevan saat ini, misalnya gerakan Occupy Wall Street yang mencoba meraih ruang budaya dan narasi melawan hegemoni neoliberal.

Aplikasi Kontemporer dan Kritik: Relevansi Gramsci di Era Global

Ide-ide Gramsci tetap relevan di abad ke-21. Globalisasi memungkinkan hegemoni borjuis menembus batas negara lewat lembaga seperti IMF dan media internasional, sehingga muncul persetujuan luas terhadap kebijakan neoliberalisme di banyak negara berkembang. Hubungan kelas global antara korporasi multinasional dan pekerja migran mencerminkan analisis Gramsci tentang Fordisme, di mana platform seperti Uber menyamarkan eksploitasi sebagai kebebasan dalam ekonomi gig.

Di Indonesia, misalnya, hegemoni kelas elite pasca-Reformasi terlihat dari narasi media yang mempromosikan konsumsi sebagai jalan menuju mobilitas sosial, sementara konflik kelas antara buruh dan pengusaha ditekan oleh kebijakan pro-bisnis. Gerakan buruh seperti KSPI mencoba membangun kontra-hegemoni lewat pendidikan politik dan aksi, yang sejatinya meniru strategi perang posisi yang Gramsci anjurkan.

Kritik terhadap Gramsci antara lain menuduhnya euro-sentris karena fokus pada pengalaman Barat dan mengabaikan dinamika kolonial secara menyeluruh. Ada pula kritik yang menyebutnya cenderung idealis karena terlalu menekankan aspek budaya dibanding basis ekonomi. Meski begitu, pemikir seperti Stuart Hall mengadaptasi gagasan Gramsci untuk membahas ras dan gender, sehingga memperluas analisis hubungan kelas. Pengaruh Gramsci juga terasa dalam teori pasca-kolonial, misalnya Edward Said yang melihat bagaimana hegemoni Barat memproduksi orientalisme. Di era digital, media sosial menjadi arena masyarakat sipil baru di mana informasi palsu bisa memperkuat hegemoni populis, seperti fenomena Trump atau Bolsonaro.

Hegemoni sebagai Kunci Emansipasi Kelas

Dari sudut pandang Gramsci, hubungan kelas dan hegemoni saling terkait: satu adalah fondasi material, yang lain adalah superstruktur yang mempertahankannya. Hegemoni menjelaskan ketahanan kapitalisme, namun juga membuka potensi perubahan melalui perjuangan budaya. Seperti yang ditulis Gramsci, manusia adalah sejarah yang membuat dirinya sendiri, sebuah penegasan tentang pentingnya kehendak kolektif kelas bawah untuk membangun dunia yang berbeda.

Warisan Gramsci mengajak kita merenung: di tengah krisis iklim dan ketimpangan, bagaimana membangun kontra-hegemoni? Jawabannya terletak pada organisasi organik dan visi inklusif, kemampuan mengubah antagonisme kelas menjadi solidaritas historis yang nyata.

Komentar