Surga, Bidadari, dan Kritik Tan Malaka: Membaca “Bayangan Masyarakat” Dalam Madilog

Oleh : Masih manusia.

Tan Malaka merupakan salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah intelektual Indonesia modern. Karyanya, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), ditulis pada masa pengasingan, menjadi upaya merumuskan kerangka berpikir ilmiah yang dapat membebaskan bangsa dari belenggu mistik dan dogma. Salah satu bagian yang memicu kontroversi adalah kritiknya mengenai surga. Ia menegaskan bahwa surga bukanlah realitas metafisis murni, melainkan bayangan masyarakat, yakni refleksi kondisi sosial, budaya, dan material tertentu.

Bagi banyak orang, surga adalah janji kebahagiaan abadi. Namun, Tan Malaka, dalam karya monumentalnya Madilog, melihatnya dari kacamata berbeda. Baginya, surga bukanlah realitas transenden murni yang berdiri di luar sejarah, melainkan “bayangan masyarakat”: pantulan dari nilai, struktur sosial, dan kebutuhan material pada masa agama itu lahir.

Siapakah Tan Malaka?

Tan Malaka (1897–1949) dikenal sebagai tokoh kiri yang justru menekankan akar keagamaannya. Ia lahir di keluarga Muslim taat dan sejak muda aktif belajar Al-Qur’an, namun kemudian terpapar Marxisme. Meski mengadopsi gagasan sosialis, Tan Malaka menegaskan ia tetap “Islam se-Islam-Islamnya” sekaligus “Marxis se-Marxis-Marxisnya” dalam menghadapi kapitalis. Sikap ini tergambar misalnya saat ia menghadiri Kongres Komunis Internasional ke-4 (1922): di hadapan rekan-rekan komunis ia berujar dengan tegas, “ketika menghadap Tuhan saya seorang muslim”. Dengan kata lain, Tan Malaka berusaha mensintesiskan keduanya; ia tidak ragu menempatkan cita-cita Islam dan Marxisme dalam satu barisan perjuangan melawan penindasan.

Ketika menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) pada Desember 1921, Tan Malaka aktif mendorong kerja sama dengan kalangan Islam. Ia dipanggil oleh Semaoen ke Semarang untuk mendirikan sekolah Sarekat Islam (SI), dan kemudian mengarahkan PKI agar rendah hati beraliansi dengan kelompok Islam dalam melawan kolonialisme. Sebagaimana dicatat sejarawan Harry A. Poeze, “ketika menjabat sebagai Ketua PKI (1921–1922), Tan Malaka teguh mendukung proyek aliansi Islam-Komunis”. 

Di bawah pengaruhnya, PKI Semarang bahkan membentuk Komite Haji guna memperjuangkan kemudahan ibadah haji, dan dalam propaganda mereka kerap merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an untuk menyuarakan penentangan terhadap penindasan dan keserakahan. Pada Kongres PKI Desember 1921, Tan Malaka berpidato: “Kalau perbedaan Islamisme dan Komunisme kita perdalam dan lebih-lebihkan, kita memberikan kesempatan kepada musuh…”. Intinya, ia menganggap menonjolkan perbedaan hanya menguntungkan pihak penjajah, sehingga ia menekankan keselarasan gerakan Islam dan Komunis sebagai kekuatan bersama melawan imperialisme.

Dalam Kongres Komunis Internasional ke-4 (Moskow, November 1922), Tan Malaka menghadapi tesis resmi Komintern yang menyatakan perlunya melawan Pan-Islamisme. Ia justru mengusulkan pendekatan berlawanan: membangun aliansi dengan gerakan Islam sebagai musuh bersama imperialisme. Ia mengajukan pertanyaan kritis kepada pimpinan Komintern apakah partai komunis harus mendukung gerakan boikot nasionalis dan Pan-Islamisme, serta sejauh mana dukungan itu harus diberikan.

Dalam pidatonya, Tan menjelaskan bahwa Pan-Islamisme modern bukan lagi soal jihad global melainkan “persaudaraan antar sesama Muslim” yang memperjuangkan kemerdekaan nasional dari berbagai kekuatan kapitalis dunia. Ia menegaskan bahwa bagi umat Islam, agama meliputi juga negara dan ekonomi, sehingga perjuangan mereka – baik di India, Jawa, atau dunia Islam lainnya adalah perlawanan melawan kapitalisme global. Dengan demikian, menurut Tan Malaka, Pan-Islamisme kontemporer berarti “perjuangan pembebasan nasional” atas kaum Muslim tertindas di bawah kekuasaan imperialis. Gagasan ini mencerminkan upayanya menggabungkan nasionalisme keagamaan dengan doktrin kiri, yaitu membangun front persatuan bersama kaum nasionalis-revolusioner dan Muslim agar revolusi anti-kolonial dapat meluas.

Pernyataan dan kebijakan Tan Malaka menimbulkan reaksi beragam. Di dalam negeri, sejumlah tokoh Sarekat Islam seperti H.O.S. Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim mulai mempropagandakan sentimen anti-komunis. Mereka menuduh kaum komunis tidak percaya Tuhan dan bertindak “tukang pecah-belah”. Pada Kongres SI Oktober 1921 proposal “Disiplin Partai” mengusulkan pengusiran komunis dari SI. Saat itu Tan Malaka membalas bahwa PKI justru harus dikecualikan karena “komunisme secara alami menjadi Islam dalam melawan imperialisme”. Ia menunjukkan contoh sejarah di mana kaum Bolshevik beraliansi dengan gerakan Islam di Kaukasus, Persia, Afghanistan, dan Bukhara, serta menegaskan jika SI memang organisasi Islam internasional maka seharusnya belajar dari kaum Muslim di luar negeri yang terbuka beraliansi dengan komunis. 

Haji Agus Salim sendiri pernah membantah klaim Tan dengan menyatakan bahwa semua ajaran Karl Marx bahkan sudah ada dalam Al-Qur’an, dan bahwa kaum Muslim Timur Tengah yang menerima bantuan Bolshevik tetap menjaga kemandirian sosialnya. Meskipun demikian, kampanye anti-komunis terus berkembang di tubuh Sarekat Islam, memicu pemisahan faksi dalam organisasi itu. Di tingkat internasional, pidato Tan Malaka di Komintern mendapatkan sambutan hangat dari beberapa delegasi. Ia disokong oleh perwakilan Tunisia dan delegasi Belanda. Namun Kongres Komintern secara resmi tidak mengubah kebijakan: meski tidak menolak sepenuhnya taktik PKI- nya, Komintern tetap mengutuk Pan-Islamisme secara umum.

Dengan kata lain, meski gagasan Tan Malaka mendapat empati, rezim komunis global pada akhirnya mempertahankan sikap skeptis terhadap Pan-Islamisme. Tan Malaka dipandang oleh sejumlah pengamat sebagai sosok yang cerdas meramu nasionalisme, agama, dan ideologi kiri. Ia berusaha membawa unsur keagamaan ke dalam perjuangan sosial demi melawan kolonialisme, sejalan dengan semangat anti-imperialis internasional. Pendekatannya ini kemudian menjadi salah satu ciri khas pemikiran Tan Malaka, yang tampil berbeda dari paham komunis ortodoks di masanya.

Surga sebagai Cermin Sosial
Mari kita tengok dua agama besar: Kristen dan Islam.

Dalam Kristen, surga digambarkan seperti kerajaan feodal. Tuhan ditempatkan sebagai raja, malaikat bertingkat-tingkat seperti bangsawan, dan umat manusia sebagai rakyat jelata. Gambaran ini tidak muncul begitu saja; ia lahir dari masyarakat Eropa abad pertengahan yang hidup dalam sistem kerajaan feodal.
Dalam Islam, surga penuh dengan simbol-simbol khas Arab gurun. Ada sungai-sungai, air zam-zam, buah-buahan, dan bidadari cantik. Bayangkan hidup di padang pasir yang gersang: air adalah kemewahan, kebun hijau adalah mimpi, dan perempuan diposisikan sebagai pusat kehormatan sekaligus objek hasrat. Maka tak heran jika surga digambarkan penuh dengan itu semua.

Bagi Tan Malaka, gambaran surgawi seperti ini memperlihatkan betapa iman tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial tempat ia berkembang. Surga adalah proyeksi harapan, ketakutan, dan cita-cita kolektif sebuah masyarakat.

Analoginya begini, bayangkan seseorang berdiri di depan cermin. Kemudian tubuh manusia yang ada di depan cermin tersebut ialah basis (base/infrastruktur) yang menjadi kenyataan material yang berisikan cara produksi, hubungan ekonomi, siapa bekerja dan siapa yang menguasai. Bayangan yang ada di cermin berlaku sebagai superstruktur/bayangan masyarakat yang berisikan hukum, agama, itos, kesenian, ideologi dan bentuk kesadaran sosial lainnya. Bayangan itu tidak akan mungkin ada tanpa tubuhnya. Bentuk bayangan pun tergantung bagaimana posisi tubuh tersebut berdiri, cahaya yang menyinarinya, dan posisi cermin. Begitu juga, ideologi atau kebudayaan suatu masyarakat selalu mengikuti bentuk dan arah dari struktur sosial-ekonomi yang menopangnya.

Misalnya, kalau tubuh tersebut kurus maka bayangannya juga kurus seperti masyarakat gurun yang kekurangan air membayangkan adanya surga yang penuh sungai, oase, dan bidadari. Kalau tubuhnya gemuk, bayangannya juga gemuk seperti masyarakat Eropa feodal yang hidup dalam sistem kerajaan yang membayangkan rupa surga seperti istana dengan raja, pangeran dan bangsawan. Jadi, bayangan tidak bisa lebih bebas dari tubuhnya. Begitu pula, superstruktur (agama, hukum, mitos, ideologi) tidak Bisa lepas dari basis ekonomi yang mendasarinya.

Jangan Tersinggung, Mari Berpikir!

Tan Malaka sadar betul bahwa kritik ini bisa memancing kemarahan. Karena itu ia menekankan pentingnya berpikir nuchter jernih, realistis, rasional. Bukan untuk merendahkan iman, melainkan untuk melihat agama secara historis. Menurutnya, bangsa Indonesia tidak akan maju jika akalnya terus dibelenggu dogma. Berpikir kritis adalah langkah awal menuju emansipasi.

Perempuan, Bidadari, dan Patriarki

Sejarah patriarki di Timur Tengah bukanlah sekadar catatan masa lalu, melainkan struktur yang terus berulang dalam berbagai bentuk. Pada era pra-Islam, perempuan diperlakukan nyaris tanpa hak: bisa diwariskan, diperjualbelikan, bahkan dihapus dari kehidupan melalui praktik mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Islam datang membawa koreksi: menghentikan kekerasan ekstrem, memberikan hak waris, mahar, dan akses pada pendidikan. Namun, tafsir tradisional yang lahir kemudian justru mengikat perempuan dalam kerangka patriarki baru yang lebih “halal,” tetapi tetap mengekang. 

Di era kolonial, gerakan perempuan mulai tumbuh di Mesir, Iran, dan wilayah lain, menuntut pendidikan dan hak politik. Namun hukum keluarga tetap berpusat pada figur laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Kontradiksi ini masih terasa hingga kini: Mesir bisa menetapkan kuota parlemen 25% bagi perempuan, tetapi di Arab Saudi istri tetap diwajibkan taat pada suami untuk mendapat nafkah, dan di Afghanistan, Taliban bahkan menutup pintu sekolah bagi anak perempuan. 

Tan Malaka dalam Madilog memberi sorotan tajam terhadap realitas ini. Dalam bahasannya tentang “bayangan masyarakat” (pasal 7, hal. 185–191), ia menyinggung bagaimana posisi perempuan di Mesir kala itu menjadi cermin patriarki. Perempuan dipingit di rumah, bila keluar harus tertutup rapat. Imajinasi ini bahkan merembes hingga pada konsep religius tentang surga: bidadari dijadikan hadiah paling berharga bagi laki-laki. “Perempuan adalah barang nomor wahid,” tulis Tan Malaka—sebuah kalimat yang menyayat, tetapi jujur menggambarkan bagaimana masyarakat patriarkal memandang perempuan bukan sebagai manusia penuh, melainkan sebagai objek kepemilikan dan kesenangan.

Maka janji bidadari di surga, dalam kaca mata Tan Malaka, bukanlah semata fenomena spiritual, melainkan proyeksi relasi sosial patriarki yang nyata di bumi. Ia menyingkap bahwa imajinasi religius pun tak lepas dari bayangan masyarakatnya. Dengan kata lain, jika masyarakat patriarkal mengekang perempuan, maka bahkan imajinasi tentang kehidupan setelah mati pun ikut mengabadikan pola pikir itu. Hingga hari ini, kita masih menyaksikan tarik-ulur antara janji kesetaraan dan realitas patriarki. Perempuan bisa menjadi profesor, menteri, atau anggota parlemen, tetapi selama hukum keluarga, tafsir konservatif, dan mentalitas “barang nomor wahid” masih menjadi norma dominan, maka kebebasan perempuan tetap berjalan dengan rantai di kakinya. 

Jejak Marx dalam Kritik Tan Malaka
Kalau kita tarik lebih jauh, kritik ini selaras dengan teori materialisme historis Marx.
Basis material: kondisi ekonomi, teknologi, dan cara produksi.

Superstruktur: hukum, politik, agama, ideologi, termasuk konsep tentang surga.
Marx berulang kali menegaskan bahwa kesadaran manusia ditentukan oleh kehidupan sosialnya, bukan sebaliknya. Tan Malaka menerjemahkan ini dengan menunjukkan bahwa surga sebagai bagian dari kesadaran keagamaan lahir dari basis material masyarakat Arab dan Eropa pada zamannya.

Dalil Agama: Surga Itu Simbolis

Menariknya, kritik Tan Malaka tidak bertentangan dengan dalil agama itu sendiri. Dalam Islam, Al-Qur’an menegaskan: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

 “Tak seorang pun tahu apa yang disembunyikan bagi mereka, yang menyedapkan pandangan mata” (QS. As-Sajdah:17). 

Hadis qudsi juga mengatakan bahwa surga tak bisa dibayangkan oleh mata, telinga, atau hati manusia : أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر

“Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”

Dalam tradisi Sunni, terdapat sejumlah ulama yang menafsirkan surga secara majazi atau simbolis, bukan semata-mata sebagai tempat fisik literal. Menurut pandangan Suhrawardi yang dikutip oleh Gus Baha mengenai Al-Ghazali, misalnya, menekankan bahwa gambaran surga dan neraka dalam al-Qur’an hanyalah perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman manusia (litaqrîbil afhâm), di mana surga sejatinya melambangkan keridhaan Allah sementara neraka melambangkan kemurkaan-Nya. Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (juz 3), ia mengilustrasikan bahwa kepada orang yang khusyuk membacakan ayat-ayat tentang pahala (surga), “terungkaplah baginya gambaran surga hingga ia melihatnya seolah-olah nyata; dan apabila ketakutan mendominasi, maka neraka pun disingkapkan kepadanya sampai ia melihat macam-macam siksaannya. Hal ini karena “kalam Allah ‘azza wa jalla mencakup yang mudah [dipahami] dan lembut…”. Dengan kata lain, Al-Ghazālī menganggap bahwa gambaran surga/neraka dalam Al-Qur’an adalah majāzī (kiasan) yang bertujuan taqrīb al-afhām – mendekatkan pemahaman manusia terhadap hakikat akhirat.

“… فَحَيْثُ يَتْلُو آيَاتِ الرَّجَاءِ وَيَغْلِبُ عَلَى حَالِهِ الاسْتِبْشَارُ تُنْكَشِفُ لَهُ صُورَةُ الْجَنَّةِ فَيُشَاهِدُهَا كَأَنَّهُ يَرَاهَا عَيَانًا، وَإِنْ غَلَبَ عَلَيْهِ الْخَوْفُ كُوشِفَ بِالنَّارِ حَتَّى يَرَى أَنْوَاعَ عَذَابِهَا… وَذَلِكَ لِأَنَّ كَلَامَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَشْتَمِلُ عَلَى السَّهْلِ اللَّطِيفِ…”

(“… ketika ia membaca ayat-ayat penuh harapan dan semangat kegembiraan menguasainya, maka terungkaplah baginya gambaran surga sehingga ia melihatnya seolah-olah nyata; dan jika ketakutan menguasainya, ia disingkapkan neraka hingga melihat beragam siksanya… Ini karena firman Allah Ta‘ālā mencakup yang mudah dan lembut…”) – Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (jil. 3, Bab IV).

Kutipan di atas (daripada Kitāb “Ar-rab‘ fī Fahm al-Qur’ān”) menunjukkan bahwa Al-Ghazālī menganggap deskripsi Qur’ānic sebagai “gambar” (صورة) untuk manusia yang berakhlak tinggi. Dengan istilah “كَلام الله يشتمل على السهل اللطيف”, ia menegaskan bahwa Allah menggunakan ungkapan yang sederhana dan ringkas agar hakikat akhirat lebih mudah ditangkap oleh akal manusia.

Kemudian Al-Nasafi dalam Madârik at-Ta’wîl juga menafsirkan ungkapan “lebar surga seluas langit dan bumi” bukan sebagai ukuran ruang, melainkan sebagai majas untuk menunjukkan keluasan yang tak terbayangkan menafsirkan QS. Āli ‘Imrān [3]:133 “Surga yang lebarnya seluas langit dan bumi”. Menurut Al‑Nasafī dalam Madarik at‑Tanzīl wa Ḥaqā’iq at‑Ta’wīl, frasa “jannatun ʿarḍuhā kaʿarḍi as‑samāwāti wa-al-arḍi” bermakna kiasan yang menggambarkan keluasan surga yang amat luas. Ia menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut:

«عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أي: عرضها عرضُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ … والمراد وصفها بالسَّعَةِ والبَسْطِ فشُبِّهَتْ بأوسعِ ما علِمَهُ النَّاسُ خَلْقَهُ وأبسطُهُ، وخَصَّ العرضَ لأنَّهُ في العادَةِ أَدْنَى من الطَّولِ للمبالَغَةِ.»

“‘Lebarnya [surga] adalah seperti lebarnya langit dan bumi.’ Maksudnya, lebarnya setara dengan lebar langit dan bumi… 

Yang diinginkan adalah menggambarkan keluasan dan perluasan surga; oleh karena itu surga disamakan dengan ciptaan yang paling luas dan lapang yang dikenal manusia. Ditegaskan kata ‘lebar’ karena biasanya ‘lebar’ lebih rendah daripada ‘panjang’, sehingga digunakan untuk penekanan berlebih (pada keluasan).”

Dari kutipan di atas tampak bahwa Al‑Nasafī tidak mengartikan ‘langit dan bumi’ secara literal sebagai jarak fisik (masāfah), melainkan sebagai simbol kebesaran dan ketidakterukuran. Ia menegaskan bahwa “lebar surga sama lebar langit dan bumi” bermaksud menonjolkan saha‘ (keluasan) dan basṭ (kelapangan) surga. Dengan perumpamaan yang “paling luas” dan “termudah” yang diketahui manusia, Al‑Nasafī menunjukkan bahwa tidak ada ukuran terhingga yang bisa membatasi surga. Kata ‘عرض’ (lebar) sengaja dipilih karena dalam bahasa Arab biasanya ‘lebar’ dianggap lebih kecil daripada ‘panjang’, sehingga metafora ini semakin mempertegas kebesaran Surga. Dengan demikian, frasa ini dipahami sebagai gambaran “keluasan yang tak terukur” (ittisāʿun lā yuqaddaru), bukan ukuran jarak yang dapat diukur secara fisik. 
Al‑Nasafī melihat frasa “seluas langit dan bumi” sebagai hiperbola untuk memperlihatkan betapa luasnya surga bagi orang-orang bertakwa. Ia mengutip perumpamaan serupa dalam ayat lain (al‑Hadid : 21) dan menggarisbawahi bahwa perumpamaan ini menekankan keluasan, bukan angka atau jarak literal. Oleh karena itu, ‘langit dan bumi’ di sini tidak bermakna jarak fisik tertentu, melainkan memperlihatkan keluasan surga yang sulit dibayangkan manusia.

Dalam tradisi tasawuf, Ibn ‘Arabî menampilkan pendekatan yang sangat simbolis; tafsirnya dipenuhi ungkapan batin yang jauh dari makna lahiriah, sehingga surga lebih dipahami sebagai manifestasi pengalaman spiritual. Ibn ‘Arabī menegaskan bahwa kenikmatan surga bersifat subjektif sesuai imajinasi penghuni surga. Ia berkata:

«وَكَذَلِكَ أَهْلُ الْجَنَّةِ يُعْطِيهِمُ اللَّهُ مِنَ الأَمَانِي وَالنَّعِيمِ الْمُتَوَهَّمِ فَوْقَ مَا هُمْ عَلَيْهِ، فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ الشَّخْصَ مِنْهُمْ يَتَوَهَّمُ ذَلِكَ أَوْ يَتَمَنَّاهُ، فَيَكُونُ فِيهِ بِحَسَبِ مَا يَتَوَهَّمُهُ، إِنْ تَمَنَّاهُ مَعْنًى كَانَ مَعْنًى، وَإِنْ تَوَهَّمَهُ حَسًّا كَانَ مَحْسُوسًا…»

Artinya: “Demikian pula para penghuni surga, Allah memberikan kepada mereka dari dambaan dan nikmat terbayang (متوهم) melebihi apa yang sesungguhnya mereka miliki. Sesungguhnya tidak ada (kenikmatan) itu kecuali seseorang dari mereka membayangkannya atau menginginkannya, maka ia mendapatkannya sesuai yang dibayangkannya. Jika ia menginginkannya berupa makna, maka menjadi makna; jika ia membayangkannya secara indrawi, maka menjadi hakiki…”. Dengan kata lain, apa yang disebut kenikmatan surga bagi setiap orang tergantung pada cara imajinasinya, dan bukan semata objek fisik yang sama untuk semua. Pernyataan ini menunjukkan bahwa deskripsi surga tidak dimaksudkan secara harfiah, melainkan bersifat majāz (simbolik). 

Cendekiawan kontemporer Indonesia Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah (Juz 2, hlm. 518) secara eksplisit menyatakan bahwa ungkapan “seluas langit dan bumi” bukanlah ukuran sesungguhnya. Menurutnya, kata-kata tersebut berfungsi sebagai perumpamaan (metafora) untuk menggambarkan seberapa luasnya surga. Ia menegaskan bahwa makna literal tidak dimaksudkan karena alam pikiran manusia memang tidak mampu membayangkan kebesaran surga secara langsung sehingga Allah memilih gambaran “sama lebarnya dengan langit dan bumi” agar terbatasnya nalar manusia dapat menangkapnya Dengan kata lain, frasa itu dipakai “untuk menggambarkan betapa luasnya surga” tanpa bermaksud menyamakan ukuran fisik surga dengan alam semesta 

Tafsir Shihab ini muncul dalam konteks penjelasan ayat Al ‘Imrān (3):133 sebagai dorongan taqwā dan perlombaan mendapatkan rahmat Allah; ia menekankan agar umat tidak terjebak pada tafsiran materialistik, melainkan memahami simbolisme ayat.

Demikian pula, al-Shawkani dalam Fatḥ al-Qadîr menyebut ungkapan serupa sebagai kiasan yang menegaskan kebesaran kuasa Allah, bukan ukuran geografis. Al-Shawkānī (Fatḥ al-Qadīr): Imam Muḥammad b. ‘Alī al-Shawkānī (w. 1250 H) dalam Fatḥ al-Qadīr menegaskan bahwa ungkapan “seluas langit dan bumi” tentang surga bukan ukuran literal melainkan metafora. Ia menjelaskan frasa »wa ṣarī‘ū ilā maghfiratin min rabbikum wa jannatin ʿarḍuhā al-samāwātu wa al-arḍu…» sebagai tasybīh (perbandingan) yang menyiratkan keluasan surga dan kelimpahan nikmatnya agar dapa ditangkap akal manusia. Dengan kata lain, “arus langit dan bumi” adalah taqrīb (penyederhanaan pemahaman), bukan kekuatan fisik surga. Al-Shawkani menuliskan : ربكم ، لقصد الدلالة على التعظيم ، ووصف الجنة بان عرضها السماوات والأرض على طريقة التشبيه البليغ ، بدليل التصريح بحرف التشبيه في نظيرتها في آية سورة الحديد . والعرض في كلام العرب يطلق على ما يقابل الطول ، وليس هو المراد هنا ، ويطلق على الاتساع لأن الشيء العريض هو الواسع في العرف بخلاف الطويل غير العريض فهو ضيق ، وهذا كقول العديل

“Tuhanmu, untuk menunjukkan kebesaran-Nya, menggambarkan surga dengan lebarnya langit dan bumi dengan cara perumpamaan yang indah, dengan bukti pernyataan huruf perumpamaan dalam ayat yang serupa dalam Surah Al-Hadid. 

Dalam bahasa Arab, lebar berarti panjang, dan bukan itu yang dimaksud di sini, melainkan luas karena benda yang lebar adalah benda yang luas menurut kebiasaan, berbeda dengan benda yang panjang tetapi tidak lebar, yang berarti sempit, seperti yang dikatakan oleh Al-Adil”

Para mufassir klasik (termasuk al-Shawkānī) menekankan bahwa frasa ini diartikan simbolis, sebagaimana dinyatakan bahwa ungkapan tersebut dipilih “atas cara tasybīh yang balīgh (kuat)”. Dalam tulisannya al-Shawkani menyebutkan :

السماوات والأرض على طريقة التشبيه البليغ ، بدليل التصريح بحرف التشبيه في نظيرتها في آية سورة الحديد . والعرض في كلام العرب يطلق على ما يقابل الطول ، وليس هو المراد هنا ، ويطلق على الاتساع لأن الشيء العريض هو الواسع في العرف بخلاف الطويل غير العريض فهو ضيق ، وهذا كقول العديل

“Langit dan bumi merupakan metafora yang kuat, sebagaimana dibuktikan oleh penggunaan huruf metaforis yang eksplisit pada padanannya dalam ayat Surat Al-Hadid. Dalam bahasa Arab, lebar mengacu pada lawan kata dari panjang, tetapi bukan itu yang dimaksud di sini. Lebar mengacu pada lebar, karena sesuatu yang lebar dalam bahasa sehari-hari memang lebar, tidak seperti sesuatu yang panjang tetapi tidak lebar, yang sempit. Hal ini seperti yang dikatakan Al-Adil”

Konteks ulasan Shawkānī di sini adalah membebaskan kesan bahwa surga memiliki dimensi fisik tertentu; ia justru mengingatkan para pembaca bahwa gambaran al-Qur’an itu dimaksudkan “mendekatkan makna agar mudah dimengerti” oleh akal terbatas.

Dalam Kristen, Paulus menulis: “Apa yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, tak pernah timbul di hati manusia—itulah yang disediakan Allah bagi orang yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9). 

Kitab Wahyu menggambarkan Yerusalem Baru dengan simbol-simbol kerajaan Yahudi-Romawi, yang oleh teolog seperti Agustinus dan Karl Barth ditafsirkan sebagai simbol, bukan realitas geografis. Dengan kata lain, baik Islam maupun Kristen sama-sama menyatakan bahwa surga sejati melampaui imajinasi manusia. Gambaran sungai, buah, atau bidadari hanyalah bahasa simbolis yang menyesuaikan konteks budaya.

Apakah Tan Malaka Anti-Tuhan?

Inilah tuduhan yang sering diarahkan padanya. Banyak yang bilang ia ateis, menolak Tuhan, bahkan hendak merusak iman dan syariat. Padahal, tuduhan ini keliru. Pertama, Madilog adalah karya filsafat, bukan tafsir agama. Fokusnya adalah membangun tradisi berpikir ilmiah di Indonesia, bukan menyerang keyakinan terlebih lagi di Indonesia hingga saat ini masih berkembang dalam kungkungan dogma dan pemikiran tradisional yang terlampau mistik serta jauh dari ajaran agama. 

Kedua, Islam sendiri mendorong akal. Al-Qur’an berulang kali bertanya, “Tidakkah kamu berpikir?” atau “Tidakkah kamu menggunakan akalmu?” (afala ta’qilun/ أَفَلَا تَعْقِلُونَ). Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa hikmah adalah milik orang beriman, dari mana pun datangnya. 

Ketiga, iman tidak runtuh hanya karena kritik. Al-Qur’an menegaskan bahwa iman adalah urusan hati (QS. Al-Ghasyiyah:21–22). Maka mengagumi Tan Malaka atau menggunakan Marxisme sebagai alat analisis sosial tidak otomatis membuat seseorang kehilangan iman.

Emansipasi Pikiran

Pada akhirnya, tujuan Tan Malaka bukanlah menafikan Tuhan, melainkan membebaskan pikiran manusia dari belenggu mitos dan dogma. Dengan memahami bahwa konsep surgawi lahir dari kondisi material masyarakat, kita bisa melihat bagaimana ideologi bekerja dan bagaimana kesadaran dibentuk. Kritik ini adalah undangan untuk tidak berhenti di permukaan. Surga memang janji indah, tapi ia juga cermin sejarah. Memahaminya dari dua sisi, spiritual dan sosial yang membuat kita lebih dewasa dalam beragama, lebih kritis dalam berpikir, dan lebih berani dalam melawan ketidakadilan.

Kesimpulan
1. Surga adalah cermin masyarakat, bukan gambaran universal yang steril dari sejarah.
2. Kritik Tan Malaka sejalan dengan materialisme historis Marx.
3. Dalil Islam dan Kristen sendiri mengakui bahwa gambaran surga adalah simbol.
4. Tuduhan bahwa Tan Malaka anti-Tuhan tidak berdasar; ia sekadar menawarkan cara pandang rasional.
5. Tujuan akhirnya: emansipasi pikiran, agar manusia berani berpikir kritis dan bebas dari belenggu dogma.


Komentar