Griffith dan Dialektika Kekuasaan: Sebuah Pembacaan Marxis terhadap Tragedi Manusia dalam Berserk
Oleh : 𓂋𓄿𓄿 (*ini hieroglif, coba aja di translate nanti ketemu nama penulisnya hehe)
Dalam ranah sastra modern, hanya segelintir karya fiksi yang mampu menantang pemahaman kita tentang kekuasaan, penderitaan, dan kehendak manusia setajam Berserk. Kentarō Miura merancang sebuah semesta naratif di mana kekerasan tidak hadir sebagai ornamen cerita, melainkan sebagai struktur ontologis yang membentuk realitas eksistensial. Di pusat narasi kelam ini, dua tokoh hadir dalam ikatan tragis Guts, yang bertarung melawan takdir dengan raganya yang terluka, dan Griffith, yang justru mengorbankan seluruh humanitya untuk menaklukkan takdir itu sendiri. Peristiwa Eclipse yang menandai puncak pengorbanan Griffith patut dipahami bukan semata sebagai keputusan personal, melainkan sebagai konsekuensi logika historis yang lebih besar yaitu logika kapitalisme dan imperatif kekuasaan yang tak terhindarkan.
Dalam perspektif Marxis, sejarah peradaban manusia pada hakikatnya merupakan rangkaian panjang konflik antarkelas. Akan tetapi, Miura menyajikan bentuk paling simbolis dari konflik ini melalui mimpi yang telah diideologisasi secara sistematis, yaitu obsesi untuk menjadi "penguasa", "pemimpin", atau "juru selamat". Griffith dengan karisma yang nyaris transendental merepresentasikan janji palsu kapitalisme bahwa segala capian mungkin diraih asalkan memiliki ambisi dan ketekunan yang memadai. Ia meyakini bahwa takdir dapat dibentuk melalui kehendak, bahwa "mimpinya" menjadi legitimasi mutlak bagi segala cara yang digunakan. Namun sebagaimana diungkapkan Marx dalam The German Ideology, ideologi justru berfungsi untuk menyelubungi kontradiksi material yang sesungguhnya. "Mereka tidak menyadari bahwa kekuatan yang mendominasi mereka sebenarnya merupakan produk dari relasi material yang mereka ciptakan sendiri," tulisnya. Dengan demikian, Griffith merupakan perwujudan nyata manusia yang memperbudak dirinya pada mimpinya sendiri, sebuah mimpi yang justru terperangkap dalam struktur sosial-ekonomi yang memproduksi hasrat sebagai alat dominasi.
Dalam narasi Berserk, kelompok Band of the Hawk berperan layaknya kaum proletar dalam sistem feodal yang tengah bertransformasi menuju kapitalisme. Mereka adalah kumpulan pekerja tempur yang dipersatukan oleh visi karismatik seorang pemimpin untuk menaklukkan dunia. Namun, sebagaimana tercatat dalam sejarah kelam kapitalisme, kekuasaan tak pernah hadir tanpa tumbal. Peristiwa Eclipse menjadi klimaks yang sangat Marxian, sebuah transformasi radikal di mana ikatan sosial seperti persahabatan, kesetiaan, dan cinta direduksi menjadi komoditas yang dapat dikorbankan demi terciptanya struktur kekuasaan baru. Melalui transformasinya menjadi Femto, Griffith merepresentasikan fase puncak dari "kapitalisme absolut", saat manusia kehilangan seluruh nilai hakikinya dan berubah sekadar menjadi instrumen bagi akumulasi kekuasaan.
Jika Marx memahami alienasi sebagai ketercerabutan manusia dari esensi kemanusiaannya akibat sistem produksi, maka Griffith mengalami alienasi dalam bentuknya yang paling fundamental. Ia bukan lagi manusia yang memiliki impian, melainkan telah menjadi impian itu sendiri yang mewujud dalam wujud manusia. Dalam perjalanannya menuju status ilahi, seluruh kemanusiaannya lenyap, sebagaimana kapitalisme kehilangan dimensi insaninya ketika segala nilai diukur semata melalui produktivitas dan penguasaan. Dengan demikian, Griffith merupakan metafora sempurna tentang cara kerja kapitalisme yang tidak hanya beroperasi melalui mekanisme ekonomi, tetapi juga melalui manipulasi hasrat, estetika, dan mitos tentang kebesaran.
Pendekatan Marxis dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membaca Berserk secara sempit sebagai alegori ekonomi, melainkan sebagai upaya memahami cara kerja ideologi pada tingkat naratif dan eksistensial. Menurut Louis Althusser, ideologi bukanlah sekadar sistem gagasan, melainkan struktur material yang secara aktif memproduksi subjek. Griffith hadir sebagai subjek ideologis par excellence, dia percaya dirinya bebas padahal seluruh tindakannya justru mereproduksi struktur kekuasaan yang telah ada. Dia adalah raja dalam sistem yang sebenarnya menguasainya. Dalam arti ini, tragedi Griffith bukan semata persoalan moral, melainkan konsekuensi material dari kontradiksi antara kesadaran individual dan basis material tempatnya berpijak.
Sementara itu, relasi antara Guts dan Griffith merefleksikan dialektika Hegelian tentang tuan dan budak. Griffith tampak sebagai penguasa, tetapi justru eksistensinya bergantung pada pengakuan dari Guts, sang budak. Ketika Guts memutuskan pergi, Griffith kehilangan fondasi pengakuan atas subjektivitasnya. Dalam kerangka Marxis, dia kehilangan basis material bagi superstruktur kepribadiannya. Dengan demikian, kejatuhan Griffith tidak hanya disebabkan ambisi buta, melainkan juga karena runtuhnya relasi sosial yang menopang ilusi kebesarannya. Dia menjadi figur yang mengalami alienasi ganda, terasing dari dunia dan sekaligus terasing dari dirinya sendiri.
Tulisan ini berargumen bahwa Griffith merupakan representasi paling kompleks dari dialektika modernitas kapitalistik, pertarungan antara mimpi dan kekuasaan, antara kemanusiaan dan deifikasi, antara cinta dan pengorbanan. Dengan meminjam kerangka pemikiran Marx, Gramsci, dan Nietzsche, tulisan ini ingin menunjukkan bahwa Bersek meskipun berbalut fantasi gelap abad pertengahan sesungguhnya adalah alegori tajam tentang sejarah manusia dalam cengkeraman kapitalisme. Dunia Miura adalah semesta tempat setiap idealisme berakhir menjadi instrumen kekuasaan, dan setiap impian kebebasan berubah menjadi bentuk baru perbudakan. Dalam konteks ini, Griffith bukan sekadar karakter fiksi, melainkan cermin yang memantulkan realitas zaman kita.
Marxisme dan Filsafat Kekuasaan
Setiap upaya memahami tokoh serumit Griffith harus diawali dengan kesadaran bahwa kekuasaan tidak pernah hadir dalam ruang kosong. Kekuasaan merupakan produk dari jalinan relasi sosial, ekonomi, dan ideologis yang saling berkelindan. Sebagaimana pernah diungkapkan Karl Marx dalam Kata Pengantar untuk Sebuah Kontribusi terhadap Kritik Ekonomi Politik (1859), "bukan kesadaran manusialah yang menentukan keberadaan mereka, melainkan keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka." Dalam kerangka pemahaman ini, ambisi Griffith bukanlah perwujudan "kehendak bebas" yang muncul dari kebebasan individu, melainkan bentuk kesadaran yang lahir dari kondisi material dan struktur sosial yang membentuknya.
1. Basis, Superstruktur, dan Mimpi sebagai Ideologi
Dalam kerangka pemikiran Marxian, masyarakat terbentuk dari dua lapisan fundamental. Basis material yang terdiri dari kekuatan dan hubungan produksi, serta superstruktur yang mencakup bidang ideologi, politik, agama, dan budaya. Superstruktur tidak hadir secara mandiri, melainkan berfungsi untuk memperbanyak dan mengukuhkan basis material yang mendasarinya. Griffith, yang hidup dalam sistem feodal yang militeristik, terbentuk oleh struktur sosial yang menempatkan peperangan, dominasi, dan hierarki sebagai nilai-nilai utama. Impiannya untuk memiliki "kerajaan sendiri" tampak sebagai hasrat pribadi, namun sesungguhnya merupakan hasil internalisasi nilai-nilai feodal yang telah terideologisasi, keyakinan bahwa kebesaran sejati hanya dapat diraih melalui penaklukan.
Louis Althusser (1970) mengembangkan gagasan Marx ini dengan memperkenalkan konsep Aparatus Ideologis Negara (ISA), institusi-institusi seperti agama, pendidikan, dan budaya yang mereproduksi ideologi kelas penguasa dalam kesadaran individu. Dalam konteks Berserk, struktur ideologis ini termanifestasi melalui narasi "takdir" dan "impian besar" yang terus diulang sebagai moral universal. Griffith adalah produk dari ISA dalam wujudnya yang paling halus, ia meyakini bahwa ambisi pribadinya adalah kebajikan moral, bahwa mengorbankan orang lain demi visi besar merupakan keharusan sejarah. Ideologi bekerja paling efektif justru ketika subjek merasa paling bebas, dan itulah tragedi Griffith.
Dengan demikian, impian Griffith berfungsi layaknya fetisisme komoditas dalam kapitalisme. Sebagaimana dijelaskan Marx dalam Das Kapital, fetisisme adalah kondisi ketika hubungan sosial antarmanusia tampak sebagai hubungan antarbenda, dan benda (komoditas) diberi nilai magis seolah-olah memiliki nilai intrinsik. Dalam kasus Griffith, "mimpi" berfungsi sebagai komoditas ideologis, sesuatu yang tampak transenden padahal sesungguhnya diciptakan oleh sistem sosial yang material. Ia memperlakukan mimpinya bukan sebagai proyek kolektif, melainkan sebagai objek absolut yang harus diwujudkan dengan segala cara. Dalam hal ini, Griffith tidak berbeda dengan kapitalis yang mengejar akumulasi demi akumulasi itu sendiri. "Kerajaan" yang ia dambakan adalah simbol kekuasaan yang telah direifikasi menjadi nilai tanpa substansi kemanusiaan.
2. Hegemoni dan Kepemimpinan Karismatik
Dalam Prison Notebooks, Antonio Gramsci menyatakan bahwa kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui pemaksaan, tetapi juga melalui hegemoni, suatu bentuk dominasi ideologis yang membuat nilai-nilai kelas penguasa diterima secara sukarela oleh masyarakat. Griffith menerapkan hegemoni ini dengan sempurna. Ia bukan sekadar pemimpin militer, melainkan juga figur karismatik yang mampu memikat kesetiaan moral para pengikutnya. Band of the Hawk mengikutinya bukan karena paksaan, melainkan karena mereka telah menginternalisasi nilai-nilai yang ditanamkan Griffith, yaitu loyalitas, ambisi, dan kebesaran. Dalam terminologi Gramsci, Griffith telah menjadi intelektual organik dari sistem yang ingin dikuasainya, seorang yang memproduksi makna untuk mempertahankan tatanan sosial yang ada sambil tampak seperti seorang pembaharu.
Namun, seperti halnya semua rezim hegemonik, fondasi kekuasaan Griffith bersifat rapuh. Ia membangun konsensus yang bertumpu pada mitos dan janji utopis, janji yang mustahil dipenuhi tanpa menggunakan kekerasan. Ketika hegemoni kekuasaannya mulai goyah, terutama setelah kepergian Guts dan kejatuhan fisiknya, ia pun beralih ke bentuk kekuasaan yang sepenuhnya koersif, yaitu Eclipse. Pada momen itu, kekuasaan berubah dari persetujuan menjadi pengorbanan massal, dari ideologi menjadi ritual berdarah. Proses ini mencerminkan transisi yang disebut Marx sebagai akumulasi primitif kekuasaan, fase brutal di mana tatanan baru hanya dapat dibangun di atas reruntuhan tatanan lama.
3. Nietzsche, Kehendak untuk Berkuasa, dan Tragedi Modern
Meski berakar pada materialisme historis, analisis ini perlu berdialog dengan pemikiran Nietzsche. Dalam Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche memperkenalkan konsep Übermensch, manusia yang melampaui moralitas konvensional dan menciptakan nilai-nilainya sendiri. Secara sekilas, Griffith tampak menjadi perwujudan ideal ini. Dia menolak batasan moral, menantang takdir, dan membangun jalan menuju keilahian. Namun perbedaan mendasar terletak pada arah kehendak tersebut. Bagi Nietzsche, kehendak untuk berkuasa merupakan afirmasi terhadap kehidupan, sementara Griffith justru menolak kehidupan dengan mengorbankan kemanusiaannya. Dia tidak melampaui sistem, melainkan mengabadikannya.
Dalam kerangka Marxian, kehendak berkuasa Griffith bukanlah bentuk transendensi eksistensial, melainkan cerminan dari logika kapitalisme yang mewujud dalam subjek. Dia menjadi mesin akumulasi kekuasaan tanpa tujuan, terus memperluas dominasi tanpa menyadari bahwa dirinya hanya melayani mekanisme historis yang lebih besar. Dengan demikian, kehendak untuk berkuasa dalam diri Griffith bukanlah kebebasan, melainkan bentuk tertinggi dari determinasi material. Dia tidak pernah benar-benar merdeka karena tidak mampu membayangkan dunia di luar hierarki dan dominasi.
Nietzsche dalam The Genealogy of Morals menulis bahwa tragedi manusia modern terletak pada "keterikatan pada nilai-nilai yang diciptakan oleh kehendak yang telah mati." Griffith, yang berusaha menjadi dewa, justru menjadi hamba dari nilai-nilai kekuasaan yang sudah usang. Dalam dirinya, ambisi individual dan struktur sosial menyatu menjadi bentuk alienasi total, sebuah ironi yang sangat Marxian.
4. Psikoanalisis dan Ideologi: Subjek sebagai Efek Struktural
Untuk melengkapi analisis ini, teori psikoanalisis Lacanian dapat membantu menjelaskan mekanisme kerja ideologi dalam pembentukan subjek. Jacques Lacan memahami bahwa manusia membentuk identitasnya melalui "cermin" simbolik, di mana kita mengenali diri hanya melalui refleksi yang diberikan oleh sistem bahasa dan masyarakat. Griffith menemukan jati dirinya melalui pandangan orang lain, terutama melalui persepsi Guts dan para pengikutnya. Ia hidup dalam "fantasi ideologis" yang meyakinkannya sebagai pahlawan, penyelamat, dan sosok ilahi yang ditakdirkan memimpin. Namun sebagaimana dinyatakan Althusser, subjek ideologis adalah mereka yang "terpanggil" oleh ideologi untuk menempati posisi tertentu dalam tatanan sosial. Griffith tidak memilih menjadi dewa, ia dipanggil oleh struktur kekuasaan untuk memainkan peran sebagai simbol supremasi.
Dalam tragedi Eclipse, kehancuran fisik Griffith dan transformasinya menjadi Femto merepresentasikan perubahan dari subjek ideologis menjadi alat ideologi absolut. Ia kehilangan wujud kemanusiaannya karena pada tahap ini ia tidak lagi memiliki "diri" yang otonom. Ia menjadi perwujudan murni dari kekuasaan itu sendiri, kekuasaan yang telah menghapus segala jejak subjektivitas manusiawi. Marx menyebut proses ini sebagai "reifikasi", kondisi ketika manusia direduksi menjadi benda, menjadi alat produksi bagi sistem yang lebih besar. Griffith adalah reifikasi ideologi dalam wujudnya yang paling nyata, di mana tubuh, pikiran, dan jiwanya telah berubah menjadi instrumen bagi mekanisme sejarah yang tidak lagi dapat ia kendalikan.
Griffith dan Mimpi Borjuis: Dari Romantisisme ke Ekspansi Imperial
Salah satu daya pikat terkuat dari karakter Griffith terletak pada pesona mimpinya yang memesona. Ia menggunakan bahasa yang hampir religius ketika menggambarkan "kerajaan yang ia impikan". Dalam salah satu dialog paling ikonik di Berserk, Griffith berkata kepada Guts bahwa seseorang hanya pantak disebut sahabat sejati jika memiliki mimpinya sendiri, jika ia berdiri setara di jalan masing-masing, bukan sekadar mengabdi pada impian orang lain. Pernyataan ini sering ditafsirkan sebagai romantisme eksistensial, namun dalam perspektif Marxis, ucapan tersebut justru menjadi cerminan kesadaran borjuis, penegasan akan individualisme, semangat kompetisi, dan superioritas nilai pribadi di atas solidaritas kolektif.
1. Ideologi Romantisisme dan Lahirnya Subjek Borjuis
Romantisme dalam dunia Griffith merupakan wujud superstruktur ideologis yang lahir dari basis material feodal. Seperti ditulis Marx dan Engels dalam The Communist Manifesto, setiap masyarakat melahirkan bentuk kesadaran yang sesuai dengan kondisi produksinya. Dalam era feodalisme, nilai-nilai seperti kehormatan, kebesaran, dan kesetiaan kepada tuan tanah merupakan cerminan dari relasi produksi yang didasarkan pada keturunan dan kekuatan militer. Griffith, meski bukan berasal dari kalangan bangsawan, menginternalisasi romantisme ini sebagai etos pribadi. Ia bercita-cita menjadi "raja" bukan karena garis keturunan, melainkan karena kekuatan kehendaknya sendiri. Dalam hal ini, ia merepresentasikan transformasi dari kesadaran feodal menuju kesadaran borjuis awal, dari pengabdian kepada tuan menjadi pengabdian kepada "mimpi individu".
Dalam kerangka Marxian, perubahan ini menandai peralihan dari mode produksi feodal ke kapitalis, di mana individu menjadi pusat narasi sejarah. Griffith memandang dirinya sebagai subjek otonom yang mampu menulis takdirnya sendiri, sebagaimana kaum borjuis percaya mereka bebas dari belenggu struktur sosial lama. Namun seperti ditegaskan Marx dalam Capital, kebebasan semacam ini hanyalah ilusi. Di balik klaim kebebasan individual selalu tersembunyi ketergantungan baru pada sistem ekonomi dan ideologi yang membatasi. Griffith, meski tampak melampaui batas kelas sosial, pada hakikatnya adalah produk dari sistem yang ia yakini dapat ditaklukkannya.
Ia menjadi citra ideal borjuis revolusioner, sosok yang percaya dunia dapat diubah oleh satu kehendak besar. Namun kehendak itu sendiri telah dikolonisasi oleh logika produksi dan ekspansi yang menjadi jantung kapitalisme. Griffith ingin "memiliki dunia" sebagaimana modal berusaha memperluas pasar. Ia tidak mencari kebahagiaan, melainkan dominasi. Ia tidak menciptakan makna baru, melainkan hanya mereproduksi struktur kekuasaan yang telah ada dengan sekadar mengganti pelakunya.
2. Band of the Hawk sebagai Alegori Kelas Pekerja
Dalam sistem yang dibangun Griffith, Band of the Hawk berperan layaknya proletariat yang dimobilisasi untuk menghasilkan kekuasaan. Mereka bekerja, bertempur, dan mengorbankan diri demi mewujudkan impian yang bukan milik mereka sendiri. Marx menyebut proses ini sebagai eksploitasi tenaga kerja, situasi di mana nilai lebih diciptakan oleh pekerja namun diakumulasi oleh pemilik alat produksi. Dalam konteks Griffith, nilai lebih tersebut terwujud dalam bentuk kemenangan militer, status sosial, dan legitimasi politik. Setiap kemenangan yang diraih Band of the Hawk semakin memperkuat posisi Griffith dalam hierarki Kerajaan Midland, persis seperti kaum buruh yang menciptakan kekayaan bagi kapitalis tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Guts, yang awalnya memandang Griffith sebagai cahaya penuntun, perlahan menyadari struktur eksploitatif ini. Ia merasa hidupnya hanya berputar di sekitar orbit Griffith, sebuah orbit yang tidak memerlukan kesetaraan melainkan hanya penyerahan diri total. Relasi antara Griffith dan Guts ini mencerminkan dialektika tuan dan budak yang diuraikan Hegel dan kemudian dikritisi Marx. Griffith menjadi tuan karena ia menguasai arah narasi sejarah, sementara Guts menjadi budak yang menyediakan tenaga material untuk mewujudkan narasi tersebut. Namun sebagaimana dalam dialektika Hegelian, kesadaran sejati muncul ketika si budak menyadari ketergantungan tuannya padanya. Kepergian Guts dari Griffith adalah momen politis, sebuah kesadaran kelas yang mengguncang tatanan hegemonik Griffith.
Sayangnya, kesadaran tersebut datang terlambat. Dalam peristiwa Eclipse, Band of the Hawk dimusnahkan, sebuah representasi ekstrem dari apa yang disebut Marx sebagai krisis reproduksi kapitalisme. Ketika sistem tidak lagi mampu menanggung kontradiksi internalnya, ia menghancurkan kekuatan produktifnya sendiri. Griffith mengorbankan pasukannya bukan semata untuk meraih kekuasaan baru, melainkan karena sistem mimpinya tidak dapat dipertahankan tanpa kekerasan struktural. Melalui pengorbanan ini, ia menegaskan prinsip fundamental kapitalisme bahwa kehidupan manusia dapat dijadikan bahan bakar bagi kelangsungan sistem. Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar selama yang dipertaruhkan adalah kelangsungan akumulasi kekuasaan.
3. Impian sebagai Komoditas dan Mekanisme Alienasi
Bagi Marx, konsep alienasi atau Entfremdung menggambarkan keadaan ketika manusia terpisah dari hasil karyanya, dari hakikat dirinya, dan dari sesama manusia. Griffith beserta para pengikutnya hidup dalam kondisi keterasingan yang menyeluruh. Setiap tindakan mereka, baik itu berperang, meraih kemenangan, maupun berkorban, telah kehilangan makna personal. Semua dijalankan untuk tujuan yang bersifat eksternal, yaitu mewujudkan mimpi Griffith. Dalam konteks ini, mimpi telah berubah menjadi komoditas ideologis, sesuatu yang diperdagangkan secara emosional demi menjaga kelangsungan sistem.
Kentaro Miura dengan cermat menggambarkan bagaimana alienasi ini tidak hanya terjadi pada ranah ekonomi, tetapi juga merambah ranah afektif. Cinta Casca kepada Griffith, kesetiaan Guts, serta pengabdian seluruh anggota pasukan merupakan wujud dari tenaga emosional yang dieksploitasi untuk akumulasi simbolik. Griffith tidak hanya menguasai fisik mereka, tetapi juga perasaan mereka. Ia menciptakan sistem afeksi yang menjerat kesetiaan, sebuah mekanisme hegemonik yang bahkan lebih kuat daripada kekuasaan militer. Dalam hal ini, Miura seakan mendahului analisis Antonio Negri dan Michael Hardt tentang kapitalisme afektif, di mana emosi manusia menjadi bagian tak terpisahkan dari proses produksi.
Alienasi yang dialami Griffith sendiri bersifat paradoks. Ia menyadari bahwa ia telah mengorbankan kemanusiaannya, namun justru menganggap pengorbanan itu sebagai syarat menuju kebesaran. Ia memandang kehilangan sebagai kemajuan, dan kehancuran sebagai transformasi. Ini adalah wujud kesadaran palsu yang sangat mendalam, di mana penderitaan ditafsirkan sebagai bukti kekuatan, dan penindasan dianggap sebagai jalan menuju kebebasan. Dalam terminologi Marx, kesadaran palsu semacam ini merupakan inti dari ideologi, yang membuat seseorang mencintai belenggu yang justru membatasinya.
4. Ekspansi Imperial dan Kapitalisme Simbolik
Setelah bertransformasi menjadi Femto, Griffith mewujud sebagai bentuk paling ekstrem dari logika ekspansi kapitalistik. Ia tidak lagi sekadar menginginkan sebuah kerajaan, melainkan berambisi menguasai seluruh dunia. Ia tidak lagi memperjuangkan pengakuan sebagai manusia, tetapi mengupayakan penaklukan totalitas yang mutlak. Kapitalisme, dalam istilah Fredric Jameson, merupakan sistem yang tidak mengenal batas luar, sistem yang terus meluas hingga seluruh aspek kehidupan terserap dalam sirkuitnya. Griffith sebagai Femto menjadi alegori sempurna bagi kapitalisme yang telah mencapai titik mutlak tersebut, sebuah dunia tanpa alternatif, di mana bahkan penderitaan manusia dijadikan bahan bakar bagi kelangsungan sistem.
Dunia pasca-Eclipse dalam Berserk menggambarkan realitas yang sepenuhnya dikuasai oleh kekuasaan simbolik. Falconia, kota tempat Griffith memerintah, merupakan utopia semu yang mempertahankan kedamaian melalui represi dan manipulasi spiritual. Dalam masyarakat tersebut, ideologi tidak lagi sekadar menjadi sistem gagasan, melainkan telah berubah menjadi realitas material yang konkret, persis seperti yang dikemukakan Althusser. Kekuasaan Griffith beroperasi melalui tiga pilar utama, yaitu iman, harapan, dan ketakutan, yang dalam konteks kapitalisme modern setara dengan konsumsi, aspirasi, dan kompetisi. Griffith telah menciptakan sistem totaliter di mana kebebasan manusia hanya dapat diwujudkan melalui kepatuhan mutlak terhadap kehendaknya.
Marxisme dan Filsafat Kekuasaan
Untuk memahami sosok Griffith secara mendalam, kita tidak bisa hanya membaca Berserk sebagai kisah heroik atau tragedi personal semata. Griffith adalah produk dari kondisi material dan historis yang lebih luas, tempat kehendak, ambisi, dan mimpi individu tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dibentuk oleh struktur ekonomi, ideologi, dan relasi kekuasaan. Dalam kerangka Marxis, subjek manusia tidak dapat dilepaskan dari basis materialnya, yaitu cara produksi yang menentukan kesadaran sosial, politik, dan budaya. Griffith menjadi perwujudan konkret dari apa yang disebut Karl Marx dalam The German Ideology sebagai "produk hubungan-hubungan sosial", bukan entitas otonom yang berdiri sendiri.
Miura menempatkan Griffith dalam masyarakat bercorak feodal, di mana kekuasaan bersumber dari kepemilikan tanah, keturunan bangsawan, dan struktur militeristik. Namun, di balik latar feodal itu, terdapat logika kapitalisme yang sedang berkembang, logika di mana setiap hubungan sosial direduksi menjadi relasi nilai dan fungsi. Griffith menembus batas-batas kelas dengan kecerdasan, karisma, dan militansinya, tetapi tujuannya bukan untuk menghancurkan struktur tersebut, melainkan untuk menaklukkannya dan menjadikannya miliknya sendiri. Dengan demikian, ia bukan revolusioner proletar, melainkan representasi subjek borjuis progresif yang percaya bahwa dunia dapat diubah melalui ambisi individual, bukan melalui perubahan kolektif.
Dalam konteks teori ideologi Louis Althusser, Griffith adalah contoh klasik subjek yang "terpanggil" oleh ideologi. Ideologi bukan sekadar sistem kepercayaan, melainkan struktur material yang memanggil individu untuk menempati posisi tertentu dalam tatanan sosial. Ketika Griffith berkata, "Aku akan memiliki kerajaanku sendiri", ia sebenarnya menegaskan posisinya sebagai subjek yang telah terpanggil oleh ideologi kekuasaan. Ia percaya bahwa kebebasan hanya dapat diraih melalui dominasi. Dalam istilah Althusserian, Griffith bukan hanya terperangkap dalam ideologi kekuasaan, ia menjadi ideologi itu sendiri. Ia hidup untuk mereproduksi sistem yang menindasnya, bahkan setelah ia tampak menentangnya.
Griffith dengan demikian adalah representasi sempurna dari antagonisme internal kapitalisme. Keinginan untuk menaklukkan sistem justru memperkuat keberlanjutan sistem itu. Ia membentuk pasukannya sendiri, Band of the Hawk, yang pada dasarnya adalah organisasi militer kecil dengan disiplin kerja yang menyerupai struktur korporasi kapitalis. Terdapat hierarki, pembagian tugas, efisiensi, dan nilai tukar yang melekat pada setiap individu. Para prajurit diukur dari "kegunaan" mereka bagi ambisi Griffith. Dalam perspektif Marxian, ini adalah bentuk awal dari reifikasi (Verdinglichung), proses di mana manusia berubah menjadi benda, alat produksi, atau komoditas yang nilainya ditentukan oleh kontribusinya terhadap akumulasi kekuasaan.
Konsep alienasi Marx menemukan bentuk estetiknya dalam relasi Griffith dan Guts. Griffith melihat Guts bukan sebagai manusia dengan kesadaran otonom, melainkan sebagai alat historis untuk mencapai tujuannya. Seperti buruh dalam sistem kapitalisme, Guts teralienasi dari dirinya sendiri. Ia bertarung demi impian orang lain, bukan dirinya. Marx dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 menulis bahwa dalam sistem kerja yang teralienasi, "aktivitas hidup manusia menjadi sarana untuk mempertahankan kehidupan, bukan ekspresi bebas dari keberadaan manusia." Demikian pula Guts, yang hidupnya direduksi menjadi perpanjangan kehendak Griffith.
Namun di sisi lain, Griffith sendiri juga mengalami alienasi yang sama. Ia menjadi budak dari mimpinya, dari struktur sosial yang menuntutnya untuk naik, menaklukkan, dan berkuasa. Dalam pengertian ini, Griffith bukan hanya pelaku, tetapi juga korban dari sistem yang ia pelihara. Ia menjadi manifestasi dari apa yang disebut Nietzsche sebagai "kehendak untuk berkuasa" (der Wille zur Macht) yang melampaui batas moral dan kemanusiaan. Namun dalam kerangka Marxis, kehendak ini bukanlah kebebasan absolut, melainkan bentuk fetisisme ideologis, keyakinan bahwa kekuasaan dapat menggantikan nilai manusia.
Secara struktural, dunia Berserk dapat dibaca sebagai alegori dari mode produksi yang bertransisi, dari feodalisme menuju bentuk awal kapitalisme. Dalam transisi ini, muncul ketegangan antara moralitas lama (kehormatan, kesetiaan, kemanusiaan) dan logika baru (efisiensi, ambisi, nilai tukar). Griffith adalah sosok liminal yang hidup di antara dua dunia ini. Ia memanfaatkan nilai-nilai feodal untuk memperluas kekuasaan dengan rasionalitas modern. Dalam hal ini, ia serupa dengan tokoh borjuis revolusioner awal Eropa, manusia yang menghancurkan struktur lama bukan demi pembebasan universal, melainkan demi ekspansi dirinya sebagai kelas baru yang dominan.
Antonio Gramsci menyebut proses ini sebagai hegemoni, yakni kemampuan kelas dominan untuk memaksakan pandangan dunianya kepada masyarakat secara sukarela melalui budaya dan moralitas. Griffith tidak menaklukkan orang dengan kekerasan semata, tetapi dengan impian. Ia menanamkan dalam diri para pengikutnya kepercayaan bahwa penderitaan mereka memiliki makna karena dikorbankan untuk sesuatu yang lebih besar. Ini adalah bentuk hegemonik kepemimpinan moral-intelektual dalam arti Gramscian. Ketika Griffith berbicara tentang "impian besar", ia tidak sedang berbicara tentang kebebasan universal, melainkan tentang ideologi yang menyamarkan kepentingan individual di balik retorika kolektif.
Pada akhirnya, teori kekuasaan Michel Foucault juga memperkaya pembacaan ini. Foucault menolak pandangan bahwa kekuasaan hanya bersumber dari atas. Kekuasaan tersebar melalui jaringan sosial, wacana, dan institusi. Griffith bukanlah raja mutlak, melainkan simpul dalam jaringan kekuasaan yang lebih luas. Ia sendiri dikonstruksi oleh pandangan orang lain, oleh mitos tentang dirinya, oleh sistem yang menuntut figur karismatik untuk menyalurkan kekerasan. Dalam pengertian ini, kekuasaan Griffith adalah performatif dan produktif. Ia menciptakan realitasnya sendiri dengan membangun struktur makna di sekitar dirinya.
Namun, sebagaimana logika kapitalisme yang terus memperluas diri hingga menghancurkan fondasinya sendiri, Griffith pada akhirnya harus mengorbankan segalanya demi mempertahankan posisi hegemoniknya. Ia menjadi simbol paradoks modernitas, manusia yang ingin menjadi Tuhan, namun berakhir menjadi alat sistem yang lebih besar darinya. Dalam hal ini, Berserk menjadi refleksi tajam atas dunia modern di mana ideologi kerja keras, ambisi, dan "mimpi besar" telah menggantikan nilai kemanusiaan. Griffith bukan hanya karakter fiksi. Ia adalah cermin dari realitas historis manusia yang terjebak antara mimpi pembebasan dan struktur penindasan yang ia bantu bangun sendiri.
Griffith dan Mimpi Borjuis: Dari Romantisisme ke Ekspansi Imperial
Pada awal kemunculannya, Griffith hadir bagaikan sosok yang terinspirasi dari romantisisme klasik, seorang pemuda yang digerakkan oleh mimpi besar, keindahan, dan kehendak yang tampak luhur. Ia menolak stagnasi sosial dan moral dunia feodal di sekelilingnya. Dalam hal ini, Griffith memainkan peran mirip Faust dalam karya Goethe, manusia yang menolak keterbatasan dan menginginkan segalanya. Namun seiring waktu, semangat romantis itu berubah menjadi logika rasional yang dingin. Ia mulai memperlakukan manusia dan moralitas sebagai variabel dalam kalkulasi strategis. Di titik inilah mimpi berubah menjadi ideologi, dan idealisme menjelma menjadi mesin kekuasaan.
Dalam perspektif Marxis, perubahan ini dapat dibaca sebagai cerminan dialektis dari perkembangan kapitalisme itu sendiri. Seperti dijelaskan Marx dalam Grundrisse, kapitalisme bermula dari mimpi kebebasan individual, pembebasan manusia dari sistem feodal yang menindas, namun berakhir pada bentuk perbudakan baru di bawah logika pasar dan akumulasi. Griffith meniru logika ini dengan sempurna. Ia menggunakan retorika kebebasan dan kemuliaan untuk membenarkan penaklukan dan pengorbanan. Dalam Berserk, setiap kemenangan Pasukan Elang Falcon dibayar dengan darah yang mengukuhkan struktur kekuasaan baru, persis seperti kapitalisme yang tumbuh melalui eksploitasi tenaga kerja dan ekspansi wilayah.
Kekuatan utama Griffith bukan terletak pada pedangnya, melainkan pada ideologinya. Ia paham bagaimana "mimpi" dapat berfungsi sebagai komoditas emosional, sesuatu yang bisa dijual dan dikonsumsi massa. Band of the Hawk bukan sekadar pasukan, melainkan mikrokosmos kapitalisme awal, di mana nilai setiap individu ditentukan oleh kontribusinya terhadap mimpi Griffith. Hal ini selaras dengan analisis Terry Eagleton dalam Ideology: An Introduction (1991), yang menyatakan bahwa ideologi modern sering beroperasi melalui estetika, mimpi, keindahan, dan moralitas palsu yang membungkus relasi kuasa. Griffith menampilkan wajah kemuliaan, sementara di baliknya tersembunyi struktur produksi penderitaan yang sistematis.
Romantisme awal Griffith yang menjunjung kebebasan, kemuliaan, dan kesetiaan berangsur berubah menjadi alat reproduksi ideologi borjuis. Marx menulis dalam Manifesto Komunis bahwa kelas borjuis "telah menenggelamkan kegemilangan religius, entusiasme kesatria, dan sentimentalitas picisan dalam air es kalkulasi egois." Griffith mengubah persahabatan menjadi investasi, cinta menjadi pengorbanan yang harus dibayar mahal, dan loyalitas menjadi modal simbolis yang dapat ditukar dengan status sosial. Persahabatannya dengan Guts adalah relasi yang tampak intim, namun sebenarnya diliputi logika kelas, Griffith membutuhkan Guts untuk memperkuat posisinya dalam struktur kekuasaan, bukan karena kesetaraan eksistensial.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana Berserk secara halus mengkritik mitos individualisme modern. Griffith adalah figur yang percaya bahwa kebesaran adalah hasil kehendak tunggal, padahal Marx menegaskan bahwa sejarah manusia merupakan hasil kontradiksi kolektif, perjuangan kelas, bukan kehendak heroik individu. Namun, dalam sistem yang memuja "self-made man", Griffith menjadi simbol kesempurnaan. Ia mengaktualisasikan mitos borjuis tentang manusia yang menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan. Ia adalah figur yang akan dipuja kapitalisme, karena ia mengonfirmasi ideologi meritokrasi, bahwa keberhasilan murni berasal dari kerja keras dan bakat, bukan produk struktur sosial yang menindas.
Dalam pengertian ini, Griffith dapat dibandingkan dengan konsep homo economicus, manusia rasional yang bertindak memaksimalkan kepentingannya. Ia tidak lagi terikat nilai moral, karena moralitas baginya hanyalah "biaya" dalam kalkulasi strategis. Ketika ia mengorbankan Band of the Hawk dalam peristiwa Eclipse, keputusan itu bukanlah ledakan emosi, melainkan manifestasi logis dari rasionalitas kapitalis, pengorbanan sebagian untuk kelangsungan kekuasaan yang lebih besar. Griffith menjadi cerminan ekstrem dari logika kapital, ia menghancurkan seluruh nilai kemanusiaan demi mempertahankan proses akumulasi kekuasaannya.
Jean-Paul Sartre dalam Being and Nothingness berbicara tentang manusia yang "terkutuk untuk bebas". Griffith mengalami kutukan ini secara harfiah. Ia tidak bisa berhenti bermimpi, karena berhenti berarti kehilangan makna keberadaannya. Dalam pengertian eksistensial, Griffith tidak benar-benar jahat, ia adalah manusia yang terus mengejar kebebasan dalam sistem yang membuat kebebasan itu mustahil. Namun dalam kerangka Marxian, kebebasan Griffith adalah bentuk kebebasan semu, kebebasan untuk menindas, bukan kebebasan untuk membebaskan. Ia menjadi penggerak utama dari sistem alienasi, di mana kebebasan individual selalu mengandaikan perbudakan orang lain.
Jika kita melihat dari sisi mitologi, transformasi Griffith menjadi Femto dapat dibaca sebagai alegori dari kelahiran kapitalisme mutlak. Dalam momen Eclipse, ia menukar tubuh, jiwa, dan kemanusiaannya demi kekuasaan total, mirip dengan metafora Faustian tentang manusia yang menjual jiwanya kepada iblis demi pengetahuan dan kekuasaan. Femto bukan lagi manusia, tetapi abstraksi murni dari kehendak untuk berkuasa, serupa dengan kapital dalam analisis Marx, entitas tanpa tubuh yang terus memperluas dirinya melalui akumulasi tanpa batas. Griffith sebagai Femto adalah kapital yang telah memutus semua hubungan manusiawi, ia tidak lagi membutuhkan cinta, kesetiaan, atau bahkan makna, yang tersisa hanyalah fungsi ekspansi.
Dalam tahap ini, Berserk menjadi lebih dari sekadar kisah fantasi gelap, ia menjelma menjadi kritik kultural terhadap logika modernitas itu sendiri. Dunia pasca-Eclipse menggambarkan tatanan dunia yang telah dikolonisasi oleh kekuasaan Griffith, di mana bahkan realitas fisik tunduk pada kehendaknya. Ini adalah bentuk ekstrem dari kapitalisme laten yang menjelma menjadi metafisika, dunia yang dikonstruksi oleh logika nilai dan kekuasaan, di mana penderitaan menjadi bahan bakar untuk keberlangsungan sistem. Griffith tidak hanya menguasai dunia, ia menciptakan dunia dalam citranya sendiri.
Seperti yang dicatat Fredric Jameson dalam Postmodernism, or The Cultural Logic of Late Capitalism (1991), kapitalisme modern tidak hanya menaklukkan ekonomi, tetapi juga imajinasi. Griffith menguasai bukan hanya tubuh, tetapi juga pikiran orang-orang. Ia menanamkan ide bahwa penderitaan mereka memiliki makna karena dikorbankan demi sesuatu yang lebih besar. Dalam hal ini, ia menciptakan bentuk ideologi transenden, di mana eksploitasi disamarkan sebagai spiritualitas. Ini adalah tahap akhir dari kapitalisme ideologis, ketika manusia tidak lagi sadar bahwa dirinya diperbudak, karena perbudakan itu hadir dalam bentuk keindahan dan makna.
Dengan demikian, mimpi Griffith bukanlah mimpi pembebasan, tetapi mimpi borjuis, mimpi tentang kekuasaan, dominasi, dan kontrol total yang dibungkus dengan narasi romantis. Ia memanipulasi bahasa kebebasan untuk menciptakan dunia di mana hanya dia yang benar-benar bebas. Mimpi itu, sebagaimana kapitalisme, adalah sistem yang indah sekaligus mengerikan, ia memberi harapan sambil menghancurkan manusia yang memimpikannya.
Ideologi, Alienasi, dan Pengkhianatan sebagai Struktur Kekuasaan
Relasi antara Griffith dan Guts merupakan inti ideologis dari narasi Berserk. Di sinilah seluruh kontradiksi kapitalisme, alienasi, dan fetisisme yang dibahas Marx menemukan bentuk manusiawinya. Miura merangkai hubungan mereka bukan sekadar sebagai persahabatan, melainkan sebagai konflik ontologis antara individu yang ingin bebas dari sistem dan individu yang menjadi perwujudan sistem itu sendiri. Griffith bukan hanya pengkhianat terhadap Guts, ia adalah pengkhianatan yang terkristalisasi dalam wujud manusia, pengkhianatan terhadap kemanusiaan, terhadap solidaritas, terhadap prinsip-prinsip yang justru ia gunakan untuk membangun kekuasaannya.
Dalam kerangka Marxis klasik, alienasi adalah hasil dari struktur ekonomi yang memisahkan manusia dari esensi kerjanya. Dalam masyarakat kapitalis, kerja bukan lagi ekspresi diri, melainkan sekadar cara bertahan hidup. Guts mengalami alienasi ini secara literal, hidupnya adalah kerja tanpa makna, kekerasan tanpa tujuan, perjuangan yang hanya memperkaya orang lain, dalam hal ini Griffith. Setiap pertarungan yang dimenangkannya tidak pernah menjadi miliknya, kemenangan itu selalu menjadi batu pijakan bagi mimpi Griffith. Guts adalah proletariat eksistensial, ia menghasilkan nilai, tetapi nilai itu diambil oleh kekuatan yang menguasainya.
Namun Marx juga menulis bahwa alienasi tidak hanya bersifat ekonomi, melainkan juga spiritual dan sosial. Dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, Marx menyatakan bahwa manusia teralienasi dari dirinya, dari sesamanya, dan dari alam. Hubungan Griffith dan Guts menegaskan hal ini, mereka saling mengagumi, tetapi keterhubungan mereka dihancurkan oleh sistem yang menuntut dominasi. Griffith tidak mampu melihat Guts sebagai setara, karena struktur kekuasaan yang ia bangun mengharuskannya menjadi pusat. Dalam logika ideologi, kesetaraan dianggap sebagai ancaman, karena mengganggu hierarki yang membuat sistem tetap berjalan.
Ketika Guts memutuskan untuk meninggalkan Griffith, itu bukan sekadar keputusan personal, melainkan sebuah tindakan revolusioner. Ia menolak menjadi alat, menolak menjadi bagian dari mesin ideologis Griffith. Dalam kerangka Gramscian, ini adalah momen praxis, kesadaran diri proletariat yang bangkit dari status pasif menuju agen historis. Guts menyadari kontradiksi yang menjeratnya, dan dalam kepergian itu, ia menolak mitos ideologis yang selama ini mengekangnya. Tidak mengherankan jika Griffith kehilangan kendali setelahnya, karena sistem hegemoniknya retak. Seperti kapitalisme yang bergantung pada tenaga kerja, kekuasaan Griffith bergantung pada orang-orang yang percaya pada mimpinya. Ketika mereka sadar, sistemnya pun goyah.
Namun Berserk tidak berhenti di situ. Miura menunjukkan bahwa ideologi tidak mati begitu saja. Dalam kondisi tertekan setelah kehilangan Guts dan dipenjara, Griffith tidak menjadi manusia yang tercerahkan, melainkan semakin terjebak dalam fantasi ideologisnya. Ia menjadi versi paling ekstrem dari dirinya sendiri. Marx dalam Das Kapital menjelaskan bahwa kapitalisme, dalam krisis, tidak berubah menjadi sistem baru, tetapi justru mempercepat logika penghancurannya sendiri. Griffith dalam keadaan terpuruk justru menegaskan kembali keyakinannya bahwa hanya kekuasaan absolut yang bisa menyelamatkan mimpi. Dalam arti ini, Eclipse adalah representasi dari krisis kapitalisme, ketika sistem menghadapi kehancuran, ia memilih untuk menelan segalanya agar bisa hidup kembali dalam bentuk yang lebih totaliter.
Pengkhianatan Griffith terhadap Band of the Hawk adalah simbol dari pengkhianatan struktural kapitalisme terhadap kelas pekerja. Kapitalisme menjanjikan kebebasan, tetapi membayarnya dengan penderitaan, menjanjikan kemakmuran kolektif, tetapi berakhir dengan akumulasi bagi segelintir elit. Griffith mengorbankan para pengikutnya demi naik ke tingkat yang lebih tinggi, mirip dengan bagaimana sistem kapitalis mengorbankan buruh dalam siklus krisis demi mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Marx menyebut ini the vampire-like nature of capital, modal hidup dari penghisapan kehidupan manusia. Griffith, sebagai manusia, berubah menjadi vampir metaforis yang meminum darah rekan-rekannya demi kelahiran kembali sebagai Femto.
Dalam perspektif psikoanalisis Lacanian, pengkhianatan Griffith juga dapat dibaca sebagai momen di mana hasrat manusia menelan dirinya sendiri. Dalam kerangka Lacan, subjek terbentuk dari kekurangan (lack), ia mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa ia miliki secara penuh. Griffith percaya bahwa menjadi raja akan memenuhi kekosongan eksistensialnya, tetapi setiap langkah menuju impian itu justru memperdalam kehampaannya. Ia menjadi simbol dari subjek kapitalis yang terus-menerus mencari kepuasan dalam produksi tanpa henti, namun tidak pernah mencapai titik akhir. Eclipse adalah kulminasi dari hasrat yang menjadi ideologi, momen ketika keinginan untuk menjadi lebih dari manusia akhirnya menghancurkan kemanusiaannya.
Jika kita menggabungkan ini dengan pembacaan Marxian, maka Eclipse dapat dilihat sebagai alegori dari momen transisi menuju kapitalisme global, dunia lama hancur, darah mengalir, dan tatanan baru lahir dari kekerasan sistemik. Griffith sebagai Femto tidak lagi manusia, ia menjadi abstraksi dari logika nilai yang berdiri di atas penderitaan konkret. Seperti kapitalisme yang mengklaim bersifat rasional dan ilmiah, tetapi berakar pada kekerasan kolonial dan perampasan, kekuasaan Femto tampak seperti keajaiban spiritual padahal berlandaskan pada pengorbanan massal.
Fredric Jameson menulis bahwa tugas seni dan sastra bukanlah menawarkan solusi, melainkan membuat ideologi dapat dipikirkan kembali. Dalam hal ini, Berserk berhasil melakukan tugas itu dengan gemilang. Miura menciptakan dunia di mana ideologi tidak disembunyikan di balik narasi moral, melainkan dihadirkan dalam bentuk telanjang, keindahan yang mengerikan, kekuasaan yang memabukkan, dan pengkhianatan yang logis. Griffith bukan monster karena ia jahat, tetapi karena ia adalah sistem yang menjadi sadar diri. Ia mengetahui bahwa cinta, moral, dan harapan hanyalah alat untuk mempertahankan struktur kekuasaan dan ia memilih untuk tetap memainkannya.
Di sisi lain, Guts menjadi cermin dari kesadaran proletar yang terus memberontak, meskipun tahu bahwa perlawanan itu tampak sia-sia. Dalam pengertian Marxian, ia adalah subjek negatif, yang keberadaannya menjadi ancaman bagi tatanan ideologis. Ia tidak menawarkan alternatif sistemik, tetapi keberadaannya sendiri sudah cukup untuk mengganggu kelangsungan sistem. Pertarungan Guts bukan hanya melawan Griffith, tetapi melawan dunia yang diciptakan oleh Griffith, dunia di mana ideologi telah menggantikan realitas.
Dengan demikian, pengkhianatan dalam Berserk bukan sekadar motif naratif, melainkan struktur kekuasaan yang membentuk seluruh tatanan dunia. Miura menulis tragedi yang tidak berhenti pada penderitaan personal, tetapi berlanjut ke dimensi historis dan material, bagaimana impian manusia menjadi alat eksploitasi, bagaimana kesetiaan berubah menjadi komoditas, dan bagaimana cinta dikorbankan demi pertumbuhan kekuasaan. Griffith mengajarkan bahwa dalam sistem yang dibangun di atas ideologi, bahkan pengkhianatan pun dapat menjadi bagian dari rasionalitas yang dianggap wajar.
Femto dan Logika Kapitalisme Absolut: Transendensi yang Membunuh Subjek
Ketika Griffith bereinkarnasi sebagai Femto, ia tidak sekadar berubah bentuk, melainkan mengalami transformasi hakikat yang mendalam. Perubahan ini bukan hanya bersifat biologis, spiritual, atau moral, tetapi bersifat ontologis dan material. Ia melampaui batas kemanusiaan dan memasuki ranah yang dalam kerangka Marxis dapat disebut sebagai "kapitalisme dalam bentuk murninya", sistem yang tidak lagi membutuhkan manusia untuk berfungsi, tetapi hidup melalui abstraksi nilai, kekuasaan, dan hasrat itu sendiri. Femto adalah kapitalisme yang telah menjadi entitas transenden.
Karl Marx dalam Das Kapital menggambarkan kapital sebagai "nilai yang bergerak sendiri", nilai yang menciptakan nilai tambah secara mandiri. Femto mengaktualisasikan konsep ini secara visual dan naratif, ia tidak lagi bergantung pada prajurit, kerajaan, atau bahkan masyarakat manusia. Dunia yang ia ciptakan tunduk sepenuhnya pada kehendaknya, seperti kapital global yang tak terikat oleh batas-batas negara, budaya, atau moralitas. Femto adalah logika pasar bebas yang telah menjelma menjadi kosmos.
Namun yang paling menarik dari transformasi ini adalah bahwa ia terjadi melalui pengorbanan total. Eclipse bukan sekadar momen kehancuran moral, melainkan proses dialektis di mana subjek membunuh dirinya untuk menjadi struktur. Griffith mati sebagai manusia agar bisa hidup sebagai sistem. Dalam kerangka dialektika Hegel-Marx, ini adalah bentuk ekstrem dari Aufhebung, peniadaan yang sekaligus merupakan pelestarian. Ia meniadakan kemanusiaannya agar bisa melestarikan kehendak untuk berkuasa dalam bentuk yang lebih tinggi. Femto adalah hasil dari kontradiksi internal antara keinginan akan kebebasan dan kebutuhan akan kekuasaan.
Dalam analisis Nietzschean, transendensi Griffith tampak seperti manifestasi Übermensch, manusia yang melampaui moralitas konvensional dan menciptakan nilai-nilainya sendiri. Namun Nietzsche menulis Übermensch sebagai afirmasi kehidupan, bukan penolakannya. Femto, sebaliknya, adalah nihilisme aktif yang menelan kehidupan itu sendiri. Ia tidak menciptakan nilai baru, tetapi menghancurkan semua nilai agar kekuasaannya tak terbatas. Ini sesuai dengan analisis Marx tentang kapitalisme yang, pada puncaknya, "menghancurkan semua nilai tetap dan menggantikannya dengan nilai tukar." Femto menjadi simbol ekstrem dari proses ini, segala sesuatu kehilangan makna kecuali fungsinya dalam sistem kekuasaan.
Dalam dunia pasca-Eclipse, Femto tidak lagi berbicara tentang mimpi, tetapi tentang stabilitas dan tatanan. Ia mendirikan Falconia, kota utopia yang menjanjikan kedamaian di tengah kekacauan. Namun kedamaian itu bersifat palsu, ia dibangun di atas kekerasan sistemik yang disembunyikan oleh keindahan dan kemegahan arsitektur. Di sinilah Miura menunjukkan kecerdasan politiknya, kekuasaan paling berbahaya bukanlah yang menindas secara terang-terangan, melainkan yang memberi rasa aman sambil menghapus kemampuan manusia untuk berpikir kritis. Ini adalah hegemoni dalam bentuk sempurnanya seperti yang dijelaskan Gramsci, di mana dominasi bekerja bukan melalui kekerasan, tetapi melalui konsensus.
Dalam kerangka Althusser, Falconia adalah aparatus ideologis negara yang paripurna. Setiap individu percaya bahwa mereka bebas, padahal kebebasan mereka sudah ditentukan oleh struktur ideologis yang tidak terlihat. Mereka menyembah Femto bukan karena dipaksa, tetapi karena percaya bahwa ia adalah penyelamat. Dalam hal ini, Berserk merefleksikan bagaimana kapitalisme modern menciptakan spiritualitas baru, agama tanpa Tuhan, di mana sistem ekonomi menjadi objek iman. Femto tidak memerintah melalui ketakutan, melainkan melalui makna, ia menjelma menjadi simbol ketertiban, keindahan, dan takdir. Dengan demikian, kekuasaannya menjadi total, bukan hanya mengatur tubuh, tetapi juga pikiran dan kepercayaan.
Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation menyebut kondisi seperti ini sebagai hiperrealitas, dunia di mana simulasi lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Falconia adalah hiperrealitas, dunia yang lebih tertib, lebih indah, dan lebih rasional daripada dunia nyata, tetapi dibangun di atas ilusi. Femto tidak perlu berbohong, ia cukup menciptakan realitas baru di mana kebohongan menjadi kebenaran. Dalam pengertian ini, ia adalah dewa pasca-modern, cermin dari kapitalisme lanjut yang menelan semua bentuk kritik dan menjadikannya bagian dari sistemnya.
Namun logika kapitalisme absolut selalu membawa kontradiksinya sendiri. Femto, dalam kesempurnaannya, kehilangan sisi manusia yang membuatnya mampu merasakan makna. Dalam pandangan Marx, kapital tidak pernah bisa berhenti, ia harus terus tumbuh atau mati. Femto mengalami hal yang sama, ia tidak lagi memiliki tujuan selain ekspansi kekuasaan. Ia menjadi mesin abadi yang bergerak tanpa arah. Inilah ironi terbesar, dalam usahanya untuk mengatasi penderitaan manusia, Griffith menciptakan bentuk penderitaan yang lebih dalam, dunia tanpa makna, tanpa cinta, tanpa kebebasan sejati.
Di sinilah pertemuan antara filsafat Marx dan eksistensialisme menjadi jelas. Marx berbicara tentang pembebasan manusia dari alienasi, sementara Sartre berbicara tentang penciptaan makna melalui kebebasan. Femto menolak keduanya, ia menghapus alienasi dengan menghancurkan subjek, dan menghapus kebebasan dengan menghapus pilihan. Ia adalah dewa tanpa manusia, sistem tanpa masyarakat. Dengan kata lain, Femto adalah kapitalisme pasca-kemanusiaan.
Miura secara brilian menjadikan transformasi ini bukan hanya tragedi personal, melainkan tragedi historis umat manusia. Femto bukan monster dari dunia lain, ia adalah cermin dari logika modernitas kita, sistem yang mengorbankan kehidupan demi efisiensi, moralitas demi stabilitas, cinta demi produktivitas. Ia adalah simbol dari dunia yang telah kehilangan pusatnya, di mana bahkan Tuhan telah digantikan oleh pasar, dan keselamatan diukur dengan kemampuan untuk bertahan dalam sistem.
Dalam konteks ini, Berserk bukan hanya kisah tentang pengkhianatan, melainkan tentang metafisika kapitalisme. Dunia yang diciptakan Femto adalah dunia yang kita kenal, dunia yang indah, tertib, dan makmur di permukaan, tetapi dibangun di atas tumpukan penderitaan. Miura mengajukan pertanyaan paling radikal, apakah manusia bisa melampaui logika kekuasaan tanpa menghancurkan dirinya? Griffith gagal menjawabnya, karena ia memilih jalan yang paling mudah, jalan sistem. Dan dalam pilihan itu, ia menandatangani kontrak abadi dengan struktur yang tak akan pernah ia kendalikan sepenuhnya.
Dalam terang pemikiran Marx, Femto adalah akhir dari dialektika sejarah bukan karena revolusi, melainkan karena totalitas sistem yang menutup kemungkinan perubahan. Namun seperti setiap sistem hegemonik, di dalamnya selalu ada retakan, keberadaan Guts. Guts adalah negasi yang menolak terserap, residu dari sejarah yang menolak dilupakan. Dalam pandangan Hegelian, dialektika tidak pernah berhenti, keberadaan negasi berarti sejarah belum selesai. Dengan demikian, Femto bukan akhir, melainkan titik di mana sejarah menunggu kebangkitan baru, sebuah kesadaran yang akan menolak dunia yang diciptakan oleh mimpi palsu.
Guts, Perlawanan, dan Materialisme Tragedi
Jika Griffith mewakili alegori kapitalisme yang menelan dirinya sendiri demi melanggengkan kekuasaan, maka Guts adalah sisa-sisa kemanusiaan yang menolak punah. Ia merupakan residu historis yang tak lagi memiliki tempat dalam logika dunia baru, namun justru karenanya menjadi inti perlawanan terhadap tatanan tersebut. Dalam terminologi Marxian, Guts adalah subjek proletar yang tersisa setelah alienasi total. Ia bukan pahlawan dalam pengertian romantis, melainkan tubuh yang terus bergerak karena penindasan memaksanya untuk bertahan.
Guts bukanlah simbol kebajikan atau moralitas konvensional. Ia mewujudkan kekerasan yang diarahkan kembali kepada struktur yang melahirkannya. Tubuhnya yang penuh luka, dengan lengan prostetik besi yang melekat, mencitrakan tubuh setengah manusia setengah mesin. Justru di situlah letak kekuatannya, ia merupakan representasi proletariat yang direifikasi oleh kapitalisme, tubuh yang dimutilasi demi produksi, di mana mutilasi itu sendiri berubah menjadi sumber kekuatan untuk menghancurkan mesin yang menciptakannya. Guts adalah alienasi yang melawan balik.
Marx dalam Economic and Philosophic Manuscripts (1844) menulis bahwa alienasi memisahkan manusia dari hakikatnya, mengubahnya dari makhluk sadar menjadi sekadar instrumen produksi. Guts hidup dalam kondisi tersebut, seluruh eksistensinya adalah kerja, perang, dan pertahanan diri. Ia tidak memiliki masa depan, tidak memiliki ruang untuk cinta atau kebahagiaan. Namun dari keterasingan inilah muncul kesadaran kritis. Guts menyadari bahwa tidak ada tatanan moral atau takdir yang mampu menebus penderitaan, yang ada hanyalah perjuangan tanpa akhir melawan struktur penindas. Kesadaran ini merupakan bentuk tertinggi materialisme tragis, pencerahan yang lahir dari penderitaan, bukan dari wahyu ilahi.
Dalam relasi dialektis antara Griffith dan Guts, kita menyaksikan logika sejarah sebagaimana dijelaskan Hegel dan diadopsi Marx, setiap tesis (kekuasaan) melahirkan antitesisnya (perlawanan). Guts tidak mungkin eksis tanpa Griffith, namun keberadaannya sekaligus mengancam eksistensi Griffith. Mereka bukan sekadar musuh personal, melainkan dua sisi dari kontradiksi yang membentuk sejarah. Griffith adalah sistem yang berusaha meniadakan penderitaan dengan menghapus kebebasan, sementara Guts adalah kebebasan yang menolak diredam oleh sistem.
Kehidupan Guts pasca-Eclipse merupakan perwujudan material dari kesadaran kelas. Ia hidup di luar struktur, di ruang liminal yang tak terjangkau tatanan baru. Dunia Miura setelah Eclipse menampilkan peta yang terfragmentasi, monster di mana-mana, dunia manusia yang kacau, batas antara realitas dan mimpi yang kabur. Di ruang inilah Guts mengembara, membawa pedangnya yang terlalu besar, bagaikan simbol buruh yang membawa alat produksinya ke dalam pertarungan mustahil. Ia tidak memiliki tujuan pasti, hanya arah, melawan. Dan dalam arah itulah tersimpan makna yang lebih dalam daripada kemenangan itu sendiri.
Dalam kerangka Gramsci, Guts mewakili bentuk kontra-hegemoni yang masih primitif, perlawanan yang belum memiliki ideologi sistematis, namun lahir dari pengalaman material penderitaan. Ia tidak membaca teori, tidak berpidato tentang revolusi, ia hanya tahu bahwa dunia ini keliru dan bahwa satu-satunya hal yang dapat dilakukannya adalah menolak tunduk. Gramsci menulis bahwa setiap perjuangan historis bermula bukan dari kesadaran ideologis, melainkan dari instinct of rebellion, naluri untuk menolak. Dalam diri Guts, naluri itu menjelma menjadi kesadaran politik paling jujur, kesadaran yang lahir dari tubuh, bukan dari doktrin.
Namun Miura tidak menjadikan Guts sebagai utopia perlawanan. Justru sebaliknya, Berserk adalah kisah tentang betapa mahalnya harga kebebasan. Guts kehilangan segala yang dicintainya, hidup dalam penderitaan tanpa henti, dan bahkan cintanya pada Casca menjadi luka yang tak kunjung sembuh. Di situlah letak kebenaran eksistensialnya, bahwa kebebasan bukanlah kebahagiaan, melainkan penderitaan yang dipilih secara sadar. Sartre menulis bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Guts memahami kutukan itu sepenuhnya, ia tidak berilusi tentang dunia yang lebih baik, hanya tekad untuk tidak menjadi budak.
Dialektika Keputusasaan dan Harapan Revolusioner
Pada akhirnya, Berserk bukan sekadar kisah tentang pedang, iblis, atau pengkhianatan. Ia merupakan alegori paling jernih tentang kondisi manusia dalam kapitalisme modern. Melalui figur Griffith dan Guts, Miura tidak hanya menulis tragedi fantasi gelap, melainkan menyusun ulang pertanyaan paling mendasar dalam sejarah filsafat, apakah manusia masih memiliki ruang untuk bebas di dunia yang telah dikuasai oleh sistem yang ia ciptakan sendiri.
Dalam sosok Griffith, kita menyaksikan bagaimana kapitalisme beroperasi dengan wajah manusiawi. Ia lahir dari mimpi tentang kebebasan dan kemakmuran, tetapi secara dialektis berubah menjadi struktur penindasan yang absolut. Mimpi yang seharusnya membebaskan justru menelan pemimpinya. Griffith ingin melampaui keterbatasan sosial dan menjadi raja dunia, tetapi dalam proses itu ia menghapus kemanusiaannya. Ia menjadi Femto, bukan sebagai manifestasi kekuatan, melainkan hasil dari kontradiksi terdalam dalam sejarah, ketika manusia berusaha menjadi Tuhan melalui logika material.
Di sisi lain, Guts hadir sebagai penolakan terhadap determinisme sejarah itu. Ia bukan revolusioner dalam pengertian klasik, tetapi ia mengandung semangat revolusi paling purba, praxis dalam bentuk paling mentah. Guts tidak percaya pada ide besar, tidak punya program politik, tidak punya janji masa depan. Ia hanya tahu satu hal, ia tidak akan berhenti melawan. Dalam pengertian Marxis, Guts adalah bentuk kesadaran kelas yang telah melewati romantisme dan memasuki tahap kesadaran material, kesadaran bahwa dunia ini tidak bisa ditafsirkan, hanya bisa diubah melalui tindakan.
Namun, tindakan Guts tidak mengubah dunia secara langsung. Miura dengan jujur menolak bentuk resolusi naratif yang mudah. Dunia tetap gelap, kekuasaan tetap bertahan, dan harapan selalu berada di ambang kehancuran. Tetapi di sinilah Berserk menemukan nilai politisnya yang paling kuat, Miura tidak menawarkan utopia, melainkan realisme material tentang perjuangan. Harapan dalam Berserk bukanlah janji kemenangan, tetapi keberanian untuk terus melawan meski tahu bahwa kemenangan mungkin tidak akan datang.
Dalam pengertian inilah Berserk menjadi karya yang secara mendalam Marxian. Marx sendiri tidak menulis tentang utopia, melainkan tentang perjuangan tak berkesudahan antara kekuasaan dan perlawanan. Sejarah, bagi Marx, tidak pernah selesai. Setiap kali sistem mencapai puncaknya, di dalamnya lahir kontradiksi baru. Femto, dalam kesempurnaannya, menciptakan negasinya sendiri, Guts. Dunia Falconia tampak seperti akhir sejarah, tetapi justru di sanalah sejarah kembali dimulai.
Walter Benjamin menulis bahwa setiap tindakan melawan penindasan adalah cara untuk menebus generasi yang gagal. Guts menebus bukan hanya penderitaannya sendiri, tetapi juga penderitaan orang-orang yang mati di bawah sistem Griffith. Setiap ayunan pedangnya adalah bentuk memori material terhadap sejarah kekerasan yang tidak boleh dilupakan. Dalam pengertian ini, perjuangan Guts bersifat historis, ia adalah tubuh yang membawa seluruh masa lalu umat manusia, luka, pengkhianatan, kehilangan, dan menolak agar semua itu tidak dihapus oleh kemegahan dunia baru.
Di sisi lain, Miura juga mengingatkan bahwa kekuatan revolusioner tidak selalu murni. Dalam diri Guts, kebencian dan cinta bercampur menjadi satu. Ia tidak berjuang karena ideologi, tetapi karena luka. Namun justru luka itu yang membuat perjuangannya nyata. Dalam dunia di mana ideologi telah dikomodifikasi, hanya rasa sakit yang tersisa sebagai bukti kemanusiaan. Miura mengembalikan politik ke ranah tubuh, tubuh yang terluka, tubuh yang bertahan, tubuh yang menolak mati. Kapitalisme dapat menelan pikiran, tetapi tidak sepenuhnya dapat mematikan rasa sakit, dan di sanalah letak kemungkinan revolusi.
Femto adalah simbol dari dunia tanpa luka, dunia yang steril dan indah di permukaan, tetapi mati di dalam. Guts, sebaliknya, adalah dunia yang berdarah dan berantakan, tetapi hidup. Pertentangan ini tidak hanya bersifat naratif, tetapi filosofis, apakah manusia harus memilih keteraturan tanpa makna, atau kekacauan dengan kebebasan. Berserk tidak memberi jawaban pasti, tetapi menegaskan bahwa yang paling manusiawi justru adalah keberanian untuk memilih penderitaan demi mempertahankan kemerdekaan.
Dengan demikian, Berserk dapat dibaca sebagai alegori dari sejarah material umat manusia, dari kelahiran kapitalisme, kebangkitannya sebagai sistem hegemonik, hingga munculnya perlawanan yang terus-menerus. Griffith adalah representasi dari logika akumulasi kapital yang mengorbankan manusia demi kemajuan, sedangkan Guts adalah wujud subjek yang tidak bisa diintegrasikan oleh sistem. Mereka berdua membentuk dialektika sejarah, penindasan dan perlawanan, struktur dan agensi, nihilisme dan keberanian.
Namun Miura melangkah lebih jauh daripada sekadar membuat alegori. Ia menulis tragedi yang juga merupakan bentuk kritik, bahwa revolusi sejati tidak akan lahir dari ambisi, melainkan dari penderitaan yang dihayati secara sadar. Marx menyebut bahwa revolusi adalah tindakan sadar manusia terhadap kondisi material yang menindasnya. Dalam diri Guts, kesadaran itu hadir bukan sebagai teori, melainkan sebagai dorongan untuk bertahan hidup dengan bermartabat.
Di akhir perjalanan, Miura seakan menyadari bahwa sejarah manusia mungkin memang tidak akan pernah mencapai akhir. Namun ketidakselesaian itu bukan kegagalan, melainkan ruang harapan. Guts mungkin tidak akan mengalahkan Femto, tetapi keberadaannya saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa sistem itu tidak sempurna. Dalam setiap pukulan pedang, dalam setiap langkahnya di dunia yang hancur, tersimpan pesan revolusioner yang paling sederhana namun paling murni, bahwa manusia belum sepenuhnya kalah.
Dalam pandangan Gramsci, pesimisme intelek, optimisme kehendak. Kalimat itu seolah ditulis untuk Guts, dan untuk kita. Dunia Berserk adalah dunia tanpa jaminan moral, tanpa keadilan ilahi, tanpa janji keselamatan. Namun justru di tengah kegelapan itulah, kehendak manusia untuk melawan menemukan makna tertingginya. Perlawanan Guts bukan tentang kemenangan, tetapi tentang menolak menjadi bagian dari kejahatan yang disamarkan sebagai ketertiban. Ia adalah pengingat bahwa bahkan dalam dunia yang sepenuhnya dikuasai oleh kapitalisme, masih ada ruang kecil untuk menolak, ruang kecil yang mungkin menjadi awal bagi dunia baru.
Akhirnya, Berserk berdiri sebagai salah satu karya paling politis yang pernah ditulis dalam bentuk fantasi. Ia bukan hanya mitos tentang kekuasaan dan pengkhianatan, tetapi juga refleksi mendalam tentang sejarah manusia yang terus berputar dalam lingkaran hasrat dan penderitaan. Griffith dan Guts bukan sekadar tokoh fiksi, mereka adalah bentuk-bentuk dari jiwa kita sendiri, yang satu menyerah kepada sistem demi kelanggengan, yang satu melawannya meski harus kehilangan segalanya.
Dan mungkin, sebagaimana Marx menulis dalam The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, sejarah berulang, pertama sebagai tragedi, kedua sebagai lelucon. Dunia Berserk menunjukkan bahwa tragedi manusia belum selesai, tetapi di setiap tragedi selalu ada benih kemungkinan. Miura tidak memberi kita harapan yang manis, tetapi sesuatu yang jauh lebih berharga, kesadaran bahwa selama masih ada penderitaan, masih ada alasan untuk melawan.
Daftar Pustaka
1. Sumber Teoretis:
· Althusser, Louis. (1970) 2001. "Ideology and Ideological State Apparatuses (Notes towards an Investigation)." Dalam Lenin and Philosophy and Other Essays, diterjemahkan oleh Ben Brewster. New York: Monthly Review Press.
· Baudrillard, Jean. (1981) 1994. Simulacra and Simulation. Diterjemahkan oleh Sheila Faria Glaser. Ann Arbor: University of Michigan Press.
· Benjamin, Walter. (1940) 1969. "Theses on the Philosophy of History." Dalam Illuminations, disunting oleh Hannah Arendt, diterjemahkan oleh Harry Zohn. New York: Schocken Books.
· Eagleton, Terry. 1991. Ideology: An Introduction. London: Verso.
· Foucault, Michel. (1975) 1995. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. Diterjemahkan oleh Alan Sheridan. New York: Vintage Books.
· Gramsci, Antonio. (1948-1951) 1971. Selections from the Prison Notebooks. Disunting dan diterjemahkan oleh Quintin Hoare dan Geoffrey Nowell Smith. New York: International Publishers.
· Hardt, Michael, dan Antonio Negri. 2000. Empire. Cambridge, MA: Harvard University Press.
· Jameson, Fredric. 1991. Postmodernism, or, The Cultural Logic of Late Capitalism. Durham: Duke University Press.
· Lacan, Jacques. (1966) 2006. Écrits. Diterjemahkan oleh Bruce Fink. New York: W. W. Norton & Company.
· Marx, Karl. (1844) 1974. Economic and Philosophic Manuscripts of 1844. Moscow: Progress Publishers.
· Marx, Karl. (1845) 1998. The German Ideology. Amherst, NY: Prometheus Books.
· Marx, Karl. (1848) 2002. The Communist Manifesto. London: Penguin Classics.
· Marx, Karl. (1859) 1970. A Contribution to the Critique of Political Economy. New York: International Publishers.
· Marx, Karl. (1867) 1976. Capital: A Critique of Political Economy, Volume I. Diterjemahkan oleh Ben Fowkes. London: Penguin Books.
· Nietzsche, Friedrich. (1883) 1978. Thus Spoke Zarathustra. Diterjemahkan oleh Walter Kaufmann. New York: Penguin.
· Nietzsche, Friedrich. (1887) 1994. On the Genealogy of Morality. Diterjemahkan oleh Carol Diethe. Cambridge: Cambridge University Press.
· Sartre, Jean-Paul. (1943) 1956. Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology. Diterjemahkan oleh Hazel E. Barnes. New York: Washington Square Press.
2. Sumber Primer (Objek Kajian):
· Miura, Kentarō. 1989–2021. Berserk. Tokyo: Hakusensha.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar