Bahtera dan Air Bah: Sebuah Alegori Marxis
Oleh : ?#?
Pada mulanya, ada sebuah dunia yang terbagi. Di puncak gunung yang menjulang, segelintir elite yaitu pemilik kapital, penguasa sarana produksi yang mendirikan istana megah dari kayu aras dan emas. Mereka, yang menyebut diri mereka "Yang Terpilih", hidup dalam kemewahan yang tak tersentuh, hasil keringat jutaan orang di bawah. Mereka menguasai hutan, sungai, ladang, dan alat-alat untuk mengolahnya. Sementara itu, di lembah yang semakin berlumpur dan sesak, hiduplah kaum produsen sejati yaitu para penebang kayu, pembuat kapal, penenun kain, dan pengolah lahan. Mereka yang bekerja dari matahari terbit hingga terbenam, namun hasil jerih payah mereka mengalir ke atas, ke istana, hanya untuk kembali sebagai upah yang pas-pasan, sekedar bertahan hidup.
Inilah alienasi di mana kaum pekerja asing dari hasil kerja mereka sendiri. Kapal yang mereka pahat dengan tangan mereka sendiri, bukan untuk mereka. Gandum yang mereka tanam, mereka tidak bisa menikmatinya dengan kenyang. Mereka diperas, dan dalam kepayahan itu, mereka juga diadu domba seperti penebang kayu dibenturkan dengan penenun kain, seolah kemiskinan mereka adalah kesalahan satu sama lain, bukan struktur yang dirancang dari atas.
Lalu datanglah para nabi atau dalam kata lain, para intelektual organik yang membacakan tanda-tanda zaman. Mereka berseru,
“Lihatlah! Ketimpangan ini telah mencapai langit. Akumulasi kapital di satu pihak dan pemiskinan massal di pihak lain adalah kontradiksi yang tak terbendung. Akan datang sebuah air bah besar, bukan air dari langit, tetapi gelombang krisis yang tak terhindarkan akibat krisis kelebihan produksi, di mana terlalu banyak kapal dibuat tetapi tak terjangkau oleh pembuatnya dan terlalu banyak gandum disimpan hingga membusuk di gudang, sementara anak-anak di lembah kelaparan. Sistem ini akan tenggelam oleh banjir kontradiksinya sendiri!”
Kaum elite di istana hanya tertawa. Mereka percaya sistem mereka abadi. Mereka memiliki bahtera raksasa dengan sebuah negara dan aparatus ideologis yang kuat adalah yang mereka yakini akan menyelamatkan hanya mereka. Mereka kumpulkan kekayaan lebih banyak, perkaya benteng, korbankan lebih banyak kaum pekerja untuk mempertahankan kemewahan mereka, berpikir bahwa ketika badai datang, mereka akan selamat sendirian.
Yang mereka lupa adalah bahwa bahtera itu sendiri yang terdiri dari setiap papan, tali, dan pasaknya itu dibangun oleh tangan-tangan yang mereka tindas. Kesadaran palsu mulai runtuh. Para pekerja lembah, melalui persatuan kelas (organisasi), menyadari kekuatan kolektif mereka. Mereka yang selama ini teralienasi, memahami bahwa merekalah subjek sejarah yang sesungguhnya.
Maka ketika krisis besar benar-benar melanda dan ketika pabrik-pabrik tutup, kelaparan merajalela, serta sistem gemetar yang terjadi bukanlah penyelamatan segelintir elite. Revolusi pun datang bagai air bah yang menggulung. Ini adalah aksi kolektif massa tertindas yang mengambil alih bahtera yang mereka bangun sendiri. Mereka tidak menghancurkan bahteranya (sarana produksi), tetapi merebut kendalinya dari nakhoda kapitalis yang lalim.
Air bah itu menyapu bersih hubungan produksi yang feodal dan kapitalistik, hubungan yang berdasarkan kepemilikan pribadi dan eksploitasi. Dunia lama yang terbagi kelasnya tenggelam. Dari gelombang perjuangan itu, muncullah sebuah dunia baru. Bahtera yang direbut kini dinavigasi secara kolektif. Tidak ada lagi yang disebut "Yang Terpilih" berdasarkan kepemilikan. Setiap orang bekerja sesuai kemampuannya, dan menikmati hasil sesuai kebutuhannya. Sarana produksi dikuasai bersama (kepemilikan sosial). Burung merpati yang dilepaskan simbol perdamaian dan pembaruan kini membawa daun zaitun, menandai berakhirnya konflik kelas yang berdarah-darah.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar