Tulah-Tulah sebagai Krisis Kapitalis

Oleh : ???

Di tepian sungai yang subur, Mesir berdiri megah dengan sebuah piramida sosial yang puncaknya disepuh emas Firaun, sementara dasarnya tersembunyi di dalam lumpur kerja dan keringat. Firaun, sang penguasa, bukan sekadar raja, tetapi personifikasi dari Mode Produksi. Ia pemilik tanah, gudang gandum, pengendali sungai Nil yang menjadi urat nadi pertanian. Kekuasaannya tidak lahir dari dewa-dewa semata, tetapi dari kepemilikan mutlak atas alat-alat produksi seperti cangkul, sawah, kanal, dan yang paling utama adalah tenaga manusia.

Di dasar piramida itu, Bani Israel berkerumun. Mereka adalah proletar dalam cerita kuno, sekelompok produsen nyata dari segala kemegahan Mesir. Tangan mereka yang menanam gandum, membangun kota perbendaharaan, menyusun bata untuk kuil-kuil. Namun, hasil kerja mereka diasingkan. Gandum yang mereka tanam mengisi lumbung Firaun dan kota yang mereka bangun mengekalkan kekuasaan penindas akibatnya mereka sendiri hanya mendapat upah sekedar untuk bertahan demi sepiring bawang dan ikan agar esok bisa kembali bekerja. Ini adalah nilai-lebih yang dihisap secara sistematis karena tenaga mereka yang tak terhitung dikristalkan menjadi kekayaan yang mengalir ke atas, mengukuhkan kelas penguasa.

Firaun, dengan pendeta dan panglimanya, menciptakan superstruktur yang kokoh diantarnya agama yang menyatakannya sebagai dewa, hukum yang mengabsahkan perbudakan, budaya yang menganggap Bani Israel sebagai kaum rendahan. Ini adalah kesadaran palsu dan narasi bahwa tatanan ini adalah kodrat ilahi, tak terbantahkan, abadi. Bani Israel pun, selama berpuluh generasi, menganggap perbudakan sebagai takdir bahwa Firaun memang harus diagungkan, bahwa piramida sosial ini adalah satu-satunya realitas yang mungkin.

Hingga muncullah Musa seorang yang terpelajar dalam istana, namun menyadari kontradiksi internal dalam sistem Mesir. Ia adalah intelektual organik yang membawa kesadaran kelas. Kata-katanya bukan sekadar seruan pemberontak, tetapi sebuah analisis kelas yang tajam, “Biarkan umat-Ku pergi!” adalah seruan untuk membebaskan tenaga produktif dari belenggu hubungan produksi yang feodalistik. Ia menyatakan bahwa Firaun hanyalah manusia, bahwa dewa adalah ciptaan untuk mengukuhkan kekuasaan, bahwa tatanan ini bukan takdir, tetapi konstruksi sosial yang bisa dirombak.

Tulah-tulah yang diturunkan bukanlah mukjizat semata, melainkan metafora dari krisis kapitalis yang berulang. Sungai Nil menjadi darah dari sumber produksi yang tercemar. Wabah katak, kutu, penyakit membuat kondisi kerja yang semakin tak layak. Kegelapan hanya menjadi kebutaan ideologis yang sesaat tersibak. Setiap tulah adalah ekspresi dari ketidakmampuan sistem lama untuk mengelola dirinya sendiri dan protes massa yang semakin meluas. Firaun sesekali berjanji lalu ingkar, mencoba reformasi palsu, sama seperti negara kapitalis yang menawarkan konsesi kecil tanpa mengubah struktur kepemilikan.

Akhirnya, malam penebusan anak sulung—saat revolusi tak terelakkan. Anak sulung Firaun, pewaris alat produksi, tumbang. Ini adalah pukulan telak pada garis suksesi kekuasaan. Firaun, untuk sesaat, melepaskan cengkeramannya. Bani Israel berjalan keluar, mengambil alat produksi mereka sendiri layaknya adonan yang belum beragi dan bergerak menuju tanah perjanjian di mana adanya sebuah masyarakat tanpa kelas, tempat susu dan madu mengalir untuk semua, bukan hanya untuk segelintir elite.

Namun perjalanan itu panjang. Di padang gurun, mental budak masih membelenggu. Mereka merindukan “daging dan bawang” Mesir fetisisme komoditas dan kenyamanan dalam keterasingan. Musa memberi mereka hukum baru, “Jangan mencuri, jangan mengingini milik sesamamu”. Sebuah kodifikasi hubungan produksi yang egaliter, landasan bagi masyarakat baru di mana kepemilikan bersama atas sumber daya bisa diwujudkan. Tanah Perjanjian itu bukan surga yang turun dari langit, melainkan masyarakat komunis yang harus diperjuangkan dengan kesadaran kolektif dan perjuangan tanpa henti.



Komentar