KRETEK SEBATANG

Oleh : ???

Tak ada yang lebih menggairahkan daripada membedah isi kepala manusia. Bukan dalam arti harfiah, melainkan menyelami ruang gelap tempat ide-ide berdesir seperti darah muda yang tak sabar berlari. Di sana, pengetahuan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari luka yang tak benar-benar sembuh dari kegelisahan yang dibiarkan hidup dan dipelihara. Pikiran adalah tubuh yang selalu berdarah dan justru dari retaknya cahaya tersebut masuk.

Kata-kata menetas pelan di dalamnya, seperti burung-burung kecil yang memecah cangkang tengkorak lalu terbang menuju langit yang masih digurat garis senja. Setiap kepakan sayapnya menggertak sepi, setiap denting kecilnya seperti lonceng yang memanggil masa depan agar lekas tiba. Aku membaca tiap urat pikir sebagaimana orang meraba peta rahasia dan menyentuh denyut yang bersembunyi di balik dahi yang tampak tenang. Dari rongga nada yang lirih, rahasia-rahasia itu keluar perlahan seperti mantra yang dilafalkan bibir yang mengepulkan perlawanan.

Ada gairah yang aneh pada bibir-bibir yang mencium bara rokok dengan intensitas yang sama ketika mengutuk nasib dan menantang zaman. Dari kepulan asap yang melingkar di udara, lahir suara yang tak sudi dibungkam. Sebuah suara yang menyeru kemerdekaan, yang menggugat diam, yang menolak tunduk pada ketakutan yang diwariskan. Asap itu bukan sekadar sisa bakaran tetapi menjelma menjadi pita-pita pikiran yang melingkari kepala, mengikat dan sekaligus membebaskan.

Aku duduk di tepi meja kayu tua, menyaksikan malam menua perlahan. Di sela desir angin, terdengar gumam manusia yang berdiskusi dengan bayangannya sendiri: tentang kemerdekaan yang belum lunas, tentang cinta yang selalu dipersoalkan, tentang lapar yang diwariskan, dan sejarah yang tak pernah benar-benar selesai. Otak terasa seperti medan perang akibat hasrat dan nalar saling berhadap-hadapan, kata-kata yang ingin diteriakkan namun dicekal oleh ketakutan yang diselipkan zaman ke dalam saku-saku kesadaran.

Namun betapa indah pikiran yang tak tunduk. Ada erotika tersendiri dalam logika yang melawan, dalam suatu keberanian untuk menyusun argumen seperti merakit senjata yang tak melukai tubuh, hanya membongkar kebisuan. Cinta pada hidup pun terasa berasap serta tak mau diam di bawah sepatu waktu, tak rela diinjak oleh rutinitas yang menidurkan nurani.

Mereka terus bicara tentang dunia yang harus ditulis ulang, tentang cinta yang berani menjadi peluru yang hadir bukan untuk membunuh, melainkan untuk menembus kebekuan dan tentang keadilan yang masih bersembunyi di balik bibir pejabat serta buku-buku berdebu yang pura-pura netral. Malam boleh saja kian renta, tetapi otak ini belum padam. Ia terus mengasapi ruang-ruang hening, menulis di dinding kepala tentang manusia yang seharusnya bebas mencinta dan berpikir tanpa izin.

Dan ketika kata-kata membara di udara, aku hanya ingin dicumbu oleh orasi tentang kemanusiaan itu, juga diberi benih-benih kesetaraan untuk ditanam di ladang otak dan hati. Barangkali dari sana akan tumbuh sesuatu yang lebih dari sekadar wacana seperti revolusi yang berwangi cinta, yang tak mengandalkan kebencian sebagai bahan bakar.

Karena mungkin, pada akhirnya, hanya dari percintaan antara otak dan asaplah lahir manusia baru. Seorang manusia yang berpikir dengan dada yang hangat dan mencinta dengan kepala yang jernih.

Komentar