KORBAN DIBUNGKAM, PELAKU DILINDUNGI : Busuknya Budaya Victim Blaming

Oleh IMMawati Anis Nur Istiqomah

Pelecehan terhadap perempuan bukan hanya soal tindakan tidak bermoral, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dan sistem sering kali meresponsnya. Setiap kali kasus terjadi, yang lebih dulu disorot justru pakaian, sikap, atau keberadaan korban di suatu tempat. Narasi ini bukan untuk menyalahkan semua laki-laki, dan bukan pula untuk meremehkan pentingnya menutup aurat. Ini tentang pola sosial yang terus berulang, ketika terjadi pelecehan korbanlah yang pertama kali dimintai pertanggungjawaban.

Jika benar pakaian adalah penyebab utama, mengapa perempuan yang berpakaian tertutup tetap menjadi korban? Mengapa anak-anak yang bahkan belum memahami konsep aurat pun bisa mengalami kekerasan? Mengapa yang disorot selalu “apa yang ia kenakan”, bukan “apa yang ada di pikiran pelaku”?

Fakta menunjukkan bahwa akar persoalan bukan terletak pada pakaian, melainkan pada kontrol diri pelaku dan cara pandang yang keliru terhadap perempuan. Ketika perempuan terus-menerus diposisikan sebagai objek, maka pelecehan seakan menjadi konsekuensi yang “dicari sendiri”. Pola pikir inilah yang harus dilawan. Sebab selama tanggung jawab dialihkan kepada korban, pelaku akan selalu menemukan pembenaran.

Lebih miris lagi, dalam realitas hukum di negeri ini, pelecehan terhadap perempuan bahkan terhadap anak sering kali terasa seperti perkara biasa. Ada kasus di mana korban yang berusaha membela diri dari pria bejat justru diproses sebagai pelaku. Seolah-olah mempertahankan diri adalah kesalahan. Semurah itukah keadilan di bangsa ini? Apakah hukum benar-benar berdiri untuk melindungi yang lemah, atau hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas? Dan apakah semuanya bisa begitu saja mereda ketika yang bersalah memiliki kuasa dan uang?

Tokoh feminis Simone de Beauvoir pernah berkata, “Seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan.” bahwa perempuan kerap dibentuk oleh konstruksi sosial yang menuntut mereka selalu berhati-hati, selalu menjaga diri, seakan-akan keselamatan sepenuhnya ada di pundak mereka. Padahal, tanggung jawab terbesar ada pada mereka yang memilih untuk melanggar batas.

Menutup aurat adalah nilai yang mulia dan bagian dari keyakinan banyak orang. Namun menjadikannya sebagai alasan utama terjadinya pelecehan adalah bentuk pengaburan masalah. Yang perlu diperkuat bukan hanya aturan berpakaian, tetapi pendidikan tentang penghormatan, kesetaraan, empati, dan batasan.

Berhenti membiasakan victim blaming bukan berarti meniadakan nilai moral. Justru sebaliknya, ini adalah upaya mengembalikan moral pada tempatnya bahwa pelecehan selalu salah, dalam kondisi apa pun, dan tanggung jawab sepenuhnya ada pada pelaku. Keadilan tidak boleh bisa dibeli, dan korban tidak boleh lagi dijadikan terdakwa di ruang publik maupun di meja hukum.




Komentar